Penuh dengan kode desain khas Royal Oak, terutama case segi delapan, bezel delapan sekrup, serta dial motif Petite Tapisserie, jam tangan tanpa tali ini sangat merujuk pada saku Royal Oak 1979 referensi 5691. Di dalamnya terdapat kaliber Sistem51 versi baru yang digerakkan secara manual, sebuah mesin jam yang dirakit sepenuhnya oleh mesin. Swatch memiliki 15 paten aktif untuk inovasi terbaru ini dan berhasil menyematkan cadangan daya impresif hingga 90 jam. Bahkan ada pegas keseimbangan Nivachron tahan medan gaya yang, kebetulan, dikembangkan bersama Audemars Piguet.
Garis POP tahun 1986 dari Swatch, di mana kepala jam bisa dikeluarkan dari frame-nya dan dipasang di tempat lain, telah digunakan di sini untuk menciptakan desain yang memungkinkan Royal Pops melompat keluar dari klip tempat dudukannya yang berbahan biokeramikx.
Kenapa Tidak Ada Jam Tangan?
Logika sederhana di balik desain jam saku yang disetujui Audemars Piguet—yang, tidak seperti Omega, bukan bagian dari Swatch Group—adalah untuk “tidak mengganggu” basis pelanggan dengan kekayaan tinggi saat ini. Pemilik Royal Oak pasti bernapas lega sekarang, karena dikonfirmasi bahwa versi murah dari jam incaran mereka tidak akan hadir di pasar dengan harga beberapa ratus dolar saja.
Meskipun begitu, bukan berarti AP akan mengalami kerugian finansial jika mereka memberikan apa yang diinginkan publik. Omega, yang juga sempat khawatir dengan penjualannya saat diperlihatkan prototipe internal MoonSwatch pertama, justru menikmati peningkatan penjualan sebsar 50 persen setelah peluncuran “sepupu murah”-nya.
Royal Pop, dengan cerdiknya, mengambil langkah memutar: penuh sensasi namun tetap aman bagi merek AP. Bahasa desain Royal Oak sangat khas, namun pergelangan tangan adalah zona terlarang. Bersama Swatch, Audemars membangun sesuatu yang nyata bagi penggemar yang mendambakannya—hanya saja ia tidak dibangun sesuai yang mereka mau.
Apa untungnya bagi Swatch? Selain publisitas berhargon, faktor yang jauh lebih penting adalah potensi peningkatan penjualan yang sangat dibutuhkan. Pada tahun 2025, grup tersebut mencatat penurunan penjualan sebesar 6,75 persen dan penurunan laba operasional hingga 55,6 persen, terutama karena turunnya permintaan jam tangan di China, Hong Kong, dan Makau. Pemegang saham Swatch Group tidak gembira kayaknya.
Kenapa China Akan Menjadi Pahlawan
Di sinilah ceritanya jadi seru, untuk alasan yang tidak diduga oleh Swatch maupun AP. Ketika Swatch mem-popularisasi lagi desain POP-nya yang memungkinkan Royal Pop dilepas dari rumahnya, dalam beberapa jam setelah pengumuman Royal Pop, merek-merek tali jam pihak ketiga langsung berebut melihat peluhang ini. Mereka ingin membuat adaptasi yang mengubah jam saku menjadi jam tangan. Karena Royal Pops dirancang untuk dipasang dan dilepas dari lanyard serta dudukan meja, diprediksikan mereka bisa dengan mudah diklik ke dalam gelang dan tali yang dibuat khusus untuk menampungnya.
Pasar langsung menyadari bahwa jam saku dari Swatch dan AP ini sebenarnya secara struktural sudah berisi materi yang dibutuhkan untuk menghasilkan jam tangan seperti yang penah dijanjikan dalam konsep kecerdasan buatan. Yang sebenarnya hanya diperlukan hanyalah sesuatu untuk menyambungkan case ke pergelangan tangan.