Pasar minyak bakal butuh waktu berbulan-bulan untuk balik normal, meskipun jalur di Selat Hormuz udah dibuka lagi hari ini. Soalnya, sekitar 1 milyar barel minyak udah ilang dari keseimbangan pasokan selama dua setengah bulan terakhir.
Ini kata Amin Nasser, bos perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, yang juga eksportir minyak mentah terbesar di dunia.
"Buka kembali rute itu beda sama normalisasi pasar yang udah kehilangan hampir 1 milyar barel minyak," kata Nasser ke Reuters akhir pekan lalu. Ini setelah Aramco ngelaporin pendapatan Q1 yang lebih bagus dari perkiraan, meskipun Selat Hormuz tutup sebulan penuh di awal tahun.
Di siaran pers Aramco, Nasser bilang perusahaannya bisa memindahkan ekspor lewat pipa East-West ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah, yang menghindari Selat Hormuz yang lagi ditutup.
"Pipa East-West kami, yang udah dipake sampe kapasitas maksimal 7 juta barel per hari, udah terbukti jadi jalur pasokan yang penting banget. Ini bantu kurangi dampak krisis energi global dan ngasih solusi buat pelanggan yang terkena masalah pengiriman di Selat Hormuz," ujar Nasser.
Selain soal fleksibilitas layani pelanggan, Nasser juga bilang minyak dan gas itu penting buat pertumbuhan ekonomi global baru sekarang. "Kejadian baru ini tunjukin gimana minyak dan gas itu vital buat keamanan energi dan ekonomi global, dan jadi pengingat bahwa pasokan energi yang andal itu kritis," kata eksekutif puncak Aramco itu.
Kehilangan pasokan ini lagi nguras persediaan di semua pasar. Beberapa wilayah, terutama di Asia, udah mengalami tekanan parah buat dapetin minyak.
Kehilangan 1 milyar barel ini bakal berimbas ke pasar minyak selama berbulan-bulan, meskipun Selat Hormuz udah dibuka lagi tanpa syarat buat kapal tanker sekarang.
Tapi, masih suram soal prospek ini. Presiden AS Donald Trump nolak tanggapan Iran soal proposal damai yang disusun AS.
Pokoknya, nggak peduli kapan pasokan dari Timur Tengah normal lagi, kerusakan pasar minyak global udah terlanjur terjadi, kata Nasser dan petinggi produsen minyak laen.
"Kita udah gali lubang sekitar 1 milyar barel kekurangan, dan lubang ini makin dalem setiap hari," kata bos Shell, Wael Sawan.
Woods dari ExxonMobil bilang, "kalo liat gangguan pasokan minyak dan gas yang belum pernah terjadi ini, pasar pasti belelum liat dampak penuhnya. Masiih akan ada dampak lagi kalo Selat ini masi tutup." Bahkan kalo Selat dibuka hari ini, butuh waktu satu-dua bulan buat pasar liat aliran normal lagi.
Perkiraan surplus 2026 cepet ilang, karena persediaan global ludes buat nyetabilin pasar, kata Patrick Pouyanné dari TotalEnergies. Kejutan di pasar ini gede dan butuh waktu berbulan-bulan buat pulih, meski Selat Hormuz udah dibukaulang.
Oleh Tsvetana Paraskova
Bacaan top lain, langsung aja klik.