Program cek kesehatan gratis pemerintah telah mencakup sekitar 19 juta orang sejak Januari sampai April, kata Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus di Padang, Sumatra Barat, pada Selasa.
Diluncurkan pada Februari 2025, program ini telah mencapai target 70 juta orang diperiksa selama tahun pertama pelaksanaanya, dengan 46 juta menjalani pemeriksaan tahunan dan 24 juta menjalani pemeriksaan di sekolah.
“Tahun ini, kami berharap bisa menjangkau 150 juta orang, dengan tujuan akhirnya semua orang Indonesia menerima program ini,” ujar Benjamin.
Ia menjelaskan program cek kesehatan gratis sangat penting untuk deteksi dini hipertensi, tuberkulosis, diabetes melitus, dan status gizi.
Selama ini, masyarakat Indonesia belum terbiasa memeriksakan kesehatan secara rutinya, biasanya baru dilakukan saat persiapan berangkat haji, umrah, atau untuk keperluan kerja.
Padahal, kata dia, penyakit katastropik, seperti komplikasi diabetes dan hipertensi, sebenarnya bisa dicegah, baik melalui deteksi dini maupun pola hidup sehat teratur.
“BPJS mengeluarkan biaya sangat besar untuk penyakit katastropik, padahal penyakit-penyakit ini bisa dicegah,” katanya.
Dengan mencegah penyakit-penyakit itu lewat program cek kesehatan, negara bisa menghemat lebih banyak anggaran, lanjut dia.
Ke depan, ia berharap semakin banyak rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang sedang dibangun memungkinkan masyarakat datang bukan hanya untuk berobat saat sakit, tetapi juga untuk deteksi dini dan pencegahan penaykit.
“Sejauh ini, cek kesehatan gratis telah dilaksanakan di puskesmas, sekolah, kementerian, lembaga, dan beberapa komunitas,” kata Benjamin.