Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus menunjukan tren pelemahan yang cukup tajam, sampai-sampai menembus level psikologis baru di angka Rp17.500. Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, tekanan terhadap mata uang Garuda ini diperkirakan bakal berlanjut dalam waktu dekat.
Ibrahim bilang, pelemahan yang signifikan ini dipicu oleh campuran sentimen negatif, baik dari situasi geopolitik global maupun kondisi fundamental ekonomi domestik yang sedang menghadapi tantangan besar.
“Hari ini rupiah terus mengalami kelemahan. Iya, sudah nyentuh level Rp17.500 yang kemungkinan besar bakal kembali menuju ke Rp17.550-an. Angka Rp17.550 kayaknya bakal tercapai dalam minggu ini,” kata Ibrahim dalam pernyataannya, Selasa (12/5/2026).
Dari luar negeri, ketegangan di Timur Tengah lagi-lagi menjadi pendorong utama penguatan indeks Dolar AS. Amerika Serikat yang menolak proposal damai dari Iran, plus serangan yang masih terus terjadi di Selat Hormuz, bikin pasar global semakin khawatir.
Ibrahim juga menyoroti adanya serangan ke kilang minyak di Pulau Lavan, Iran, yang melibatkan dinamika negara-negara mantan anggota OPEC. Kondisi ini secara langsung mendongkrak harga minyak mentah dunia yang akhirnya berdampak pada naiknya biaya transportasi global.
Meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat lumayan tinggi di angka 5,61%, Ibrahim nilai itu belom cukup kuat buat nahan rupiah. Soalnya, pertumbuhan lebih banyak didorong oleh konsumsi dan belanja negara, bukannya investasi yang produktif.