Pemerintah Inggris menjatuhkan sanksi terhadap jaringan yang terkait dengan Iran dan dituduh merencanakan serangan di Inggris serta negara lain. Kementerian Luar Negeri Inggris mengeluarkan larangan bepergian, pembekuan aset, dan perintah diskualifikasi direktur terhadap sembilan individu dan tiga entitas yang “terkait kegiatan bermusuhan yang didukung Iran.”
Mereka dituduh merencanangkan serangan dan membiayai upaya untuk menggangu stabilitas Inggris dan sekutunya atas nama Iran.
Sanksi ini termasuk anggota serta koneksi dari jaringan kriminal Zindashti, yang dituduh mengancam, merencanakan, atau melaksanakan serangan terhadap orang dan aset di Inggris dan tempat lain.
Naji Ibrahim Sharifi-Zindashti, pimpinan jaringan tersebut, telah dijatuhi sanksi oleh Inggris dan Amerika Serikat pada 2024. Otoritas saat itu menyebutnya sebagai kepala kartel narkotika dan perdagangan manusia internasional yang diarahkan oleh Kementrian Intelijen dan Keamanan Iran. Uni Eropa kemudian mengikuti dengan penetapan sanksi sendiri tahun lalu. London, Washington, dan Brussel semuanya menuduh jaringan ini menjalankan operasi pembunuhan dan penculikan yang menargetkan kritikus pemerintah Iran.
Lima anggota keluarga Zarringhalam, yang dituduh turut membiayai upaya destabilisasi, juga termasuk dalam sasaran sanksi Inggris. Tiga anggota keluarga telah dijatuhi sanksi oleh AS tahun sebelumnya atas peran mereka dalam jaringan perbankan bayang-bayang Iran. Washington mengatakan mereka mencuci milyaran dolar melalui perusahaan boneka di Uni Emirat Arab dan Hong Kong. Dua rumah penukaran mata uang yang terkait dengan jaringan keluarga itu, Berelian Exchange dan GCM Exchange, juga dijatuhi sanksi.
Warga negara Turki Ekrem Oztunc, Namiq Salifov asal Azerbaijan, dan Nihat Abdul Kadir Asan asal Iran juga disebut dalam daftar sanksi; semuanya dituduh mengacum, merencanakan, atau melakukan serangan di Inggris atau tempat lain. Penetapan sanksi ini merupakan rangkaian terbaru dari langkah-langkah Inggris terhadap Iran selama beberapa bulan terakhir, setelah sanksi berbeda sebelumnya pada Februari lalu yang menarget aparat keamanan Iran atas tindakan kekerasan dalam menumpas aksi protes reformasi di awal tahun ini.