Ujian kepemimpinan berikutnya: seberapa cakap kau mengelola agen-AI-mu


Selamat pagi. Siapa agen lo? Itu bukan pertanyaan yang sering kita dengar kalo kerja di luar dunia hiburan. Tapi itu pertanyaan yang diajukan penulis dan fellow MIT Michael Schrage ke sekelompok CFO minggu lalu saat makan malam yang di-host Fortune bareng Deloitte sama Salesforce di Boston. Schrage ngebahas, tentu aja, soal AI agents, program software yang diciptain buat bertindak sendiri atas nama lo dan berinteraksi sama orang atau program lain.

Jawaban dari partisipan kita campuran: beberapa CFO punya agen AI pribadi yang mereka pake buat bantuin ngatur alur kerja atau, misal, persiapan buat panggilan kuartalan. Yang lain lebih fokus ngawasin gimana agen-agen itu diciptain dan dipake di seluruh organisasi mereka. Dan ada juga yang nahan diri buat nyari tahu aturan main dan arahan yang tepat sebelum ngelepas terlalu banyak ‘pekerja’ otonom di perusahaan mereka.

Buat saya, ini percakapan yang tepat waktu dan bikin mikir karena nyentuh isu yang saya rasa setiap pemimpin harus pahamin sekarang.

Peran CFO: Kadang mereka dianggep sebagai ‘Debbie Downer’-nya jajaran C-suite: penjaga duit, Dr. No, penyeimbang anggaran, pengontrol biaya, dan pemeriksa realita ambisi perusahaan. Tapi riset Deloitte nunjukkin bahwa CFO sebenarya enabler dan core driver yang inovasi serta orang yang “ngejangkarkan inisiatif AI ke hasil bisnis yang terukur,” kayak yang disebut di laporan Tech Trends 2026. Mereka harus ngukur rasio risiko-balik dari investasi AI dan nemuin cara baru buat nilaian tenaga kerja agen.

Perlunya Agen: Schrage ngebahas tentang agen fungsional yang dipake di tim dan agen pribadi yang bertindak atas nama individu. Yang terakhir mungkin didesain buat ngawasin yang pertama, dan sifat khusus dari agen-agen ini nimbulin pertanyaan etis dan hukum yang menarik tentang apa yang terjadi sama mereka ketika manusia yang bikin mereka pindah ke organisasi lain. Ini bukan cuma latihan teoretis. Saya punya digital twin. Walaupun agak sederhana dan jilat menjilat di bentuknya sekarang, secara teori bisa dipake buat nulis dan bicara atas nama saya lama setelah saya pergi. Jadi, siapa yang punya IP dari diri digital lo?

MEMBACA  Alasan Saham Pendidikan yang Melonjak ke Rekor Tertinggi Tarik Investasi Baru Rp54,7 Miliar

Norma Perusahan: Kalo berdasarkan saran dari Schrage, pemimpin masa depan bisa aja termasuk cyborg yang punya kecerdasan, kemampuan, pertimbangan, dan wewenang dari pemilik manusianya, gimana seharusnya alur kerja, penilain karyawan, dan desain perusahaan diubah biar bisa nampung ini? Harusnya user super diijinin buat bikin agen sebanyak yang mereka mau? Gimana cara biaya dan kompensasi dihitung? Schage memprediksi bahwa “CEO akan dinlai sebaik agen-agen mereka seperti sewaktu mereka ngerekrut,” begitu juga situasinya dengan jajaran C-suite lain. Kemampuan mereka yang ditingkatkan buat ngatur kemampuan yang ditingkatkan orang lain akan bikin hubungan yang beda banget sama rekan kerja, nasabah, dan komunitas yang mereka layani.

Hubungi CEO Daily via Diane Brady di [email protected]

.

Tinggalkan komentar