Sudah jadi pola umum beberapa bulan terakhir: seorang pemimpin bisnis buat klaim yang mengerikan tentang dampak AI di pasar kerja, lalu jadi diskusi selama berminggu-minggu dan bikin pekerja AS panik. Sekarang, seorang “godfather” AI mulai melawan klaim-klaim itu—dan memperingatkan tentang bahaya yang ditimbulkan.
Dalam wawancara dengan Axios, Yann LeCun, mantan kepala AI Meta yang menciptakan banyyak komponen dasar AI seperti deep learning, bilang narasi-narasi doom itu salah—dan “sangat destruktif.”
“Jangan dengerin para CEO,” katanya. “Mereka punya kepentingan untuk meninggikan kekuatan produk yang mereka jual.” Dia bilang lebih baik dengerin para ekonom, yang banyyak ragu sama posisi bahwa AI bakal menghapus banyak pekerjaan entry-level white-collar.
LeCun, pemenang Turing Award (hadiah tahunan untuk kontribusi penting di ilmu komputer) nambahin bahwa semua peringatan itu “sangat merusak.”
“Sebagian kecil siswa SMA jadi agak depresi karena mereka baca bahwa AI bukan cuma ngambil kerjaan, tapi bikin manusia punah,” katanya. “Mereka anggap itu serius dan punya efek besar pada psikologi mereka.”
LeCun justru memperingatkan bahwa bahayanya bukan di AI atau klaim-klaim yang terkait, tapi di membuat keputusan besar yang mengubah hidup karena klaim-klaim itu. Dia menganjurkan siswa SMA untuk tetap kuliah, dan jangan biarkan rasa takut kehilangan kerjaan entry-level menghalangi mereka masuk ke bidang yang mereka suka.
Meskipun beberapa perusahaan teknologi sudah PHK karyawan tahun ini karena efisiensi dari AI, kiamat kerjaan besar-besaran belum terwujud. Ada yang curiga bahwa PHK sebenarnya hanya fiksi korporat, perusahaan potong kepala karena alasan lain tapi nuduh AI. OpenAI CEO Sam Altman bahkan ngasih nama untuk praktik itu.
Tapi, CEO Anthropic Dario Amodei masih bilang AI akan hapus setengah pekerjaan entry-level white-collar. Kepala AI Microsoft Mustafa Suleyman bilang peringatan itu akan terwujud cuma dalam 18 bulan.
Gen Z takut kiamat AI. Data ngomong berbeda
Meskipun belon ada riset yang jelas soal pengaruh peringatan kiamat AI ke siswa SMA, survei Gallup baru nemuin bahwa Gen Z makin skeptis sama teknologi. Tiga puluh satu persen responden usia 14 hingga 29 tahun bilang mereka cemas atau marah soal perkembangan AI, naik dari 22% setahun lalu.
Itu sebagian karena kebanyakan peringatan keras nargetin langkah awal masuk karir: posisi entry-level. Bagi sebagian, janji kerjaan white-collar—dengan fasilitas seperti asuransi kesehatan, 401K, cuti berbayar—semakin sukar dijangkau.
Karena persepsi itu, mayoritas Gen Z mulai pertimbangkan ulang naik tangga korporat. Studi dari ZipRecruiter temuin bahwa dibanding cari kerjaan penuh waktu, fresh graduate lebih milih buka usaha sendiri, coba kerja gig atau freelance, atau masuk ke bidang-bidang kejuruan.
Tapi persepsinya beda jauh sama data. Tujuh puluh tujuh persen angkatan 2025 dapet kerja dalam tiga bulan setelah lulus, naik dari 63.3% setahun lalu, menurut ZipRecruiter. Selain itu, pengangguran usia 20-24 turun ke 6.4% di Maret dari puncak 9.2% September lalu, menurut data Federal Reserve—menunjukkan bahwa anak kuliahan dan lulusan baru lebih cepat dapet kerjaan daripada apa yang para pesimis mau kalian percayain.
Tapi ada beberapa riset yang menunjukkan pasar kerja bisa segera sampai di posisi yang para CEO bilang. Riset dari lab AI Anthropic nemuin bahwa AI mereka sudah secara teoritis mampu ngerjain tugas-tugas di bidang hukum, bisnis, keuangan, manajemen, dan pekerjaan “kerah putih” lainnya.
Soal rugi besar karena AI — — si LeCun nggak ngeliatnya terjadi dalam waktu dekat. Sebaliknya, dia liat kemiripan antara AI dan revolusi teknoligi sebelumnya, kemiripan yang juga disorot ekonom lain untuk bikin argumen yang sama melawan argumen kiamat kerjaan.
“Nggak beda secara kualitatif antara revolusi teknologi sebelumnya dan yg satu ini,” katanya. “Cuma satu set alat baru yang bikin kita lebih efisien.”