Pasar Minyak Goreng Status Mimpi Buruk: Barat Siaga Cegah Dasak Tangki, Iran Tunda Pumpong Puncak

Barat dan Iran sekarang menghadapi dua situasi darurat di pasar minyak yang sangat bertolak belakang, dan bisa terjadi dalam hitungan minggu.

Selat Hormuz masih sebagian besar ditutup lebih dari dua bulan sejak AS dan Israel meluncurkan perang melawan Iran, persediaan minyak di negara-negara konsumen utama makin cepat habis.

Frederic Lasserre, kepala analisis di perusahaan perdagangan komoditas Gunvor Group, bilang di konferensi industri akhir April kalau penutupan ini berlangsung satu bulan lagi, pasar minyak akan kehabisan stok dan mencapai “dasar tangki.”

Analis JPMorgan juga bilang hal yang sama, stok minyak di negara OECD bakal sampai di “batas operasional minimum” antara 9-30 Mei, “dan saat itu kenaikan harga jadi eksponensial, bukan lagi linier.”

Di sisi lain, blokade laut AS menghentikan ekspor minyak Iran. Ini membuat stok Iran malah menumpuk karena gak ada tujuan. Kalau penyimpanan penuh dan industri mencapai “puncak tangki,” produsen harus potong produksi drastis, bisa merusak ladang minyak permanen.

Kebetulan, Teheran punya waktu yang hampir sama dengan Barat. Pejabat yang tahu kebijakan energi Iran bilang ke Bloomberg bahwa negara itu cuma punya waktu sekitar satu bulan dengan produksi sekarang sebelum kapasitas penyimpanan habis. JPMorgan dan Kpler juga punya perkiraan serupa.

Tapi Iran sibuk cari cara buat memperpanjang waktu dengan mengurangi produksi minyak secara proaktif, menurut Bloomberg. Iran kabarnya juga mulai pakai kapal tanker lama sebagai tempat penyimpanan terapung dan coba kirim pasokan lewat rel ke China.

Iran sudah punya banyak pengalaman menekan produksi tanpa ngerusak kapasitas jangka panjang, dan percaya diri bakal bisa mengatasi blokade AS.

Untungnya, harga minyak masa depan masih belum sampai ke skenario terburuk $150-$200 per barel. Hari Jumat, West Texas Intermediate ada di sekitar $102 dan Brent $108, walau harga fisik lebih tinggi.

MEMBACA  Ledakan Misterius Serang Kapal Tanker Minyak, Diduga Akibat Sabotase

Untuk bantu mengurangi dampak, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab pakai jalur ekspor alternatif yang melewati Selat Hormuz. AS, Jepang, Eropa, dan negara-negara besar lain lakukan rilis bareng dari cadangan strategis.

Negara Asia juga lebih andalkan impor dari AS. AS malah baru menyalip Arab Saudi sebagai pengekspor minyak terbesar global, tapi loncatan itu hasilnya dari ambil cadangan AS saja. Stok minyak mentah dan turunannya turun gabungan 52 jutaan barel setelah beberapa minggu turun terus.

Marinir AS dari 31st Marine Expeditionary Unit naik M/V Blue Star III, kapal komersil yang dicurigai mau ke Iran langgar blokade, April 28, 2026 – Marinir AS.

Tingkat penyimpanan bakal terus diuji karena produksi AS gak naik, padahal lebihuntungan besar udah di depan.

Hasil survey perusahaan tambang yang dilakukan Dallas Fed di daerah Permian Basin menunjukkan penawaran gak banyak berubah, saking beratnya ketidakperntuan untuk triwungan ke depan langka panjang.

“Meskipun harga sudah dari hampir sebulan di atass $90 per barel, jumlah alat bor turun – duramo tidak siklin percay mampu pertahabaN haram pres panjartelah sakki.” Kuku man!

Tinggalkan komentar