Lepas Ketergantungan Impor: Industri Migas Nasional Bertekad Bangkit Menjadi Pemain Global

Minggu, 3 Mei 2026 – 21:32 WIB

Jakarta, VIVA – Industri minyak dan gas (migas) Indonesia sekarang ini dinilai sdang berada di titik kritis. Ketergantunganya yang tinggi banget pada impor peratalan strategis, minimnya penguasaan teknologi, sampe masih lemahnya basis industri domestik jadi batu sandungan buat Indonesia supaya bisa bersaing di rantai pasok global.

Selama ini, Indonesia dinilai masih terjebak dalam skema ekstraksi sumber daya dan belom sepenuhnya beralih ke penguatan kapabilitas industri.

Menanggapii urgensi itu, Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI) bareng Komunitas Migas Indonesia (KMI) mendorong penuh transformasi industri penunjang migas nasional.

Langkah nyata ini diwujudkan lewat kunjungan kerja ke fasilitas produksi pipa Indonesia Seamless Tube (IST) milik PT Artas Energi Petrogas di Kawasan Industri Krakatau Steel, Cilegon. Kunjungan ini dipimpin langsung sama Sekjen IAFMI, Gede Pramona, ditemenin jajaran pengurus IAFMI, serta dihadiri sama Chairman KMI, S Herry Putranto.

Fokus utama di pertemuan itu adalah merumuskan strategi penguatan daya saing produk pipa seamless dalam negeri yang sekarang udah mencapai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 46%, biar benar-benar mampu jadi tuan rumah di negeri sendiri.

"Indonesia gak bisa terus-terusan jadi pasar buat industri global. Kita harus jadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok. Kalo enggak dari sekarang, kita bakal terus tertinggal," kata Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas Hendrik Kawilarang Luntungan dalam keterangannya, Minggu, 3 Mei 2026.

Kapabilitas industri nasional sejatinye udah dibuktiin oleh PT Artas Energi Petrogas. Sebagai satu-satunya produsen seamless tube di Tanah Air, produk IST udah dipercaya di berbagai proyek KKKS dengan standar kualitas global API 5CT dan API 5L. Gak cuma melakukan substitusi impor, perusahaan ini juga berhasil ngekspor produknya ke pasar Asia sampe Timur Tengah, serta nyumbang devisa negara nyampe Rp15 triliun.

MEMBACA  Google Sheets baru saja menjadi lebih cepat, tetapi ada sedikit kendala. Inilah yang perlu Anda ketahui.

Lewat kolaborasi strategis ini, IAFMI dan KMI menargetkan transformasi industri migas yang mampu ngasih lima dampak signifikan, yaitu: penurunan tajam angka impor peralatan migas, efisiensi cost recovery, peningkatan TKDN yang berorientasi pada kualitas, lahirlah national champions di sektor industri migas, dan ngegaskan Indonesia sebagai basis industri migas utama di kawasan Asia Tenggara.

  • [Halaman Berikutnya]
    Meski begitu, para pelaku industri sadar kalo tantangan gede masih membentang. Beberapa di antaranya termasuk tingginya impor komponen kritikal dan kurangnya penguasaan teknologi serta Research & Development.

Tinggalkan komentar