Kamis, 30 April 2026 – 18:20 WIB
Jakarta, VIVA – PT ABM Investama Tbk (ABMM) setuju untuk bagi-bagi dividen tunai dari laba bersih tahun buku 2025. Nilaiya mencapai US$15,5 juta atau sekitar Rp267,05 miliar, seperti hasil keputusan rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang diadakan pada Rabu, 29 April 2026.
Group Head of Corporate Finance Treasury and Investor Relation ABMM, Mohamad Ditto Ananta Nugraha, bilang dividen akan dikasih ke pemegang saham yang tercatat dalam daftar pemegang saham (recording date) pada tanggal 8 Mei 2026. Pembagian ini dilakukan secara proporsional sesuai kepemilikan saham masing-masing investor.
“RUPST memutuskan bagikan dividen senilai US$15.500.000 atau senilai Rp267.057.005.000 yang akan diatribusikan secara proporsional pada tanggal 28 Mei 2026,” kata Ditto waktu konferensi pers di Jakarta pada Rabu, 29 April 2026.
Sepanjang tahun 2025, Ditto ngasih tahu laba bersih perusahaan yang bisa diatribusikan ke pemilik entitas induk tercatat sebesar US$70,6 juta.
Selain buat alokasi dividen tunai, perusahaan juga nyisihin sebesar US$100 ribu sebagai cadangan wajib sesuai sama aturan di Pasal 70 Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT) dan Anggaran Dasar perusahaan. Sisanya nanti diretensi sebagai laba ditahan buat kegiatan usaha perusahaan.
Dia juga menjelaskan, pendapatan konsolidasian turun 14 persen secara year on year (yoy) menjadi US$1.038,2 juta. EBITDA juga ikut turun 21 persen secara tahunan jadi US$339,4 juta.
Sementara itu, total ekuitas tercatat naik ke US$880,4 juta dari sebelumnya US$847,3 juta di tahun kemarin. Posisi kas dan setara kas meningkat kira-kira 17,6 persen jadi US$200 juta pada 2025, sedangkan tahun sebelumnya cuma US$170 juta.
Direktur ABMM, Hans Christian Manoe, bilang tahun 2025 tuh periode yang penuh tantangan buat kinerja operasional perusahaan. Dia nyebut banyak faktor eksternal yang memengaruhi bisnis, kayak cuaca ekstrem yang di luar kendali perusahaan.
Hans mengakui kalau kinerja perusahaan turun dibanding tahun sebelumnya. Tapi, perusahaan fokus pada pengelolaan arus kas sehinga gak ada perbedaan terlalu signifikan dari tahun sebelumnya.
“Jadi walaupun cash inflownya lebih kecil dibanding era 2024, tapi cashflow operating net-nya gak beda-jauh,” ujar Hans.
Di tengah tantangan eksternal sepanjang 2025, perusahaan terus efisiensi opersional. Cara ini membuat mereka bisa jaga kinerja dengan volume overburden removal sebesar 235,5 juta BCM.