UPS sengaja ngurangi pengiriman dari Amazon, biar bisa fokus kirim barang yang untungnya lebih gede, kayak dari usaha kecil. Tapi strategi ini mungkin masih berat diterima investor UPS.
CFO UPS bilang di laporan laba kuartal pertama, “Akhir kuartal pertama, Amazon cuma 8,8% dari total pendapatan kami. Itu turun dari yang sebelumnya di atas 13%. Kami seneng banget kerja sama sama Amazon soal penurunan ini.”
Katanya lagi, kelebihan UPS itu kemapuan buat urus barang retur: “Dengan jaringan retur yang bagus dan layanan retur tanpa kotak dan label, hubungan sama Amazon bakal terus tumbuh.”
Inti strateginya: Akhir Januari lalu, UPS bilang akan potong 30.000 pekerjaan dan tutup 24 fasilitas di 2026, kurangi pengiriman untuk Amazon.
Kuartal pertama UPS juga kurang greget. Walaupun laba dan penjualan sesuai perkiraan, UPS cuma ngulangin target setahun penuh. Angkanya juga jelek: Laba operasi turun jadi $1,3 miliar dari $1,8 miliar. Penjualan domestik juga lemah.
Saham UPS anjlok hampir 5%. Analis JP Morgan bilang, “UPS bakal negatif sama hasil domestik AS di Kuartal 1 2026 yang ternyata lemah, dan perlu kenaikan yang lebih kuat buat mencapai target margin di Kuartal 2 2026.”
Kesimpulannya: Ngurangin bisnis Amazon yang besar makan sangat sulit bagi investor UPS. Hasilnya belum tentu nunjukin foku pada pertumbuhan lewat kiriman yang lebih untung dan ngurangin pekerja.
UPS harus buktiin banyak hal ke investor di paruh kedua tahun ini. Sahamnya naik 6% setahun terakhir, kalah sama FedEx yang naik 82%. Besaing FedEx berhasil benahi diri, terutama soal beban biaya. S&P 500 juga naik 29% dalam waktu yang sama.
Brian Sozzi adalah Executive Editor Yahoo Finance. Ikuti soal berita e-mail [email protected] atau [[twitter @brian sozzi|BrianSozzi *], Instagrami dan Linkedln].