Jakarta (ANTARA) – Setidaknya enam orang tewas setelah kereta jarak jauh menabrak kereta komuter di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, kata operator PT Kereta Api Indonesia (KAI).
"Enam penumpang KRL dipastikan meninggal, sementara 80 lainnya luka-luka dan sedang menerima perawatan medis," kata Wakil Presiden Komunikasi Perusahaan KAI, Anne Purba, dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Selasa pagi.
Menurut KAI, semua 240 penumpang kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek selamat dari kejadian itu.
Purba memastikan bahwa semua korban tabrakan mendapatkan perawatan yang menyeluruh.
KAI menekankan bahwa biaya pengobatan untuk yang luka dan biaya pemakaman untuk yang meninggal akan ditanggung sepenuhnya oleh asuransi dan perusahaan.
Para korban dirawat di beberapa fasilitas terdekat, termasuk RSUD Bekasi, Rumah Sakit Primaya, dan Rumah Sakit Bakti Kartini.
KAI berjanji memberikan dukungan penuh kepada keluarga korban, memastikan respons tetap cepat dan terkoordinasi dengan semua pihak berwenang terkait.
Purba menjelaskan bahwa evakuasi memakan waktu cukup lama karena petugas memprioritaskan pengeluaran korban selamat secara hati-hati dari reruntuhan.
"Tenaga medis, Basarnas, dan tim KAI melakukan segala yang mungkin untuk menstabilkan dan merawat para korban," ujarnya.
Untuk membantu publik, perusahan telah mendirikan posko informasi di Stasiun Bekasi Timur bagi keluarga yang mencari kabar tentang penumpang.
Purba menegaskan bahwa KAI tetap fokus pada kesejahteraan korban sambil bekerja sama dengan penyidik untuk menangani kejadian ini.
"Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kejadian ini dan memohan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua penumpang," katanya.
Berita terkait: Rescue continues for three still trapped in Bekasi train wreckage
Berita terkait: Bekasi Timur Station closed as crews race to free trapped passengers