Komisi Komunikasi Federal (FCC) menggunakan isu “kontroversial seputar identitas gender” dalam tayangan televisi anak-anak sebagai dalih untuk mempertanyakan bagaimana sistem rating TV dikembangkaan dan ditegakkan, demikian menurut sebuah pengumuman yang diterbitkan oleh badan federal tersebut pada Rabu.
Pengumuman ini secara umum mengevaluasi sistem rating TV, namun secara spesifik menyoroti bahwa panduan industri tersebut telah memberikan rating pada acara yang menampilkan “program yang berkaitan dengan transgender dan gender non-biner” sebagai konten yang layak untuk anak-anak. FCC berargumen bahwa orang tua tidak diberi informasi ini, “sehingga mengurangi kemampuan mereka untuk membuat pilihan yang tepat bagi keluarga mereka.”
Dalam dokumen tersebut, FCC mengajukan serangkaian pertanyaan terbuka tentang pengembangan sistem rating TV, termasuk apakah dewan yang bertanggung jawab atas panduan tersebut sudah “cukup seimbang” dengan sudut pandang dari luar industri hiburan, dan apakah organisasi berbasis agama harus diwakili di dalam badan tersebut.
“Apa lagi yang dapat dilakukan dewan untuk memasukkan perspektif berorientasi keluarga — yang tidak terwakili dengan baik dalam industri media — ke dalam proses penentuan rating?” demikian bunyi pertanyaan dalam pengumuman tersebut.
Ketua FCC, Brendan Carr, mengumumkan nota publik ini di akun X miliknya, menjelaskan bahwa “orang tua telah menyuarakan kekhawatiran mereka atas pendekatan yang diambil industri.” Ia menambahkan bahwa orang tua ini juga percaya bahwa “para pemrogram dari New York & Hollywood” mempromosikan konten yang tidak pantas dalam tayangan anak-anak tanpa memberitahukannya kepada orang tua. Carr tidak menyebutkan identitas gender dalam unggahannya di X.
Panduan rating untuk orang tua di TV dapat mencakup penilaian serta deskripsi konten seperti bahasa kasar, situasi seksual, dan kekerasan.
Para aktivis hak LGBTQ+ mengkritik pengumuman publik ini, dengan argue-men bahwa hal itu merupakan bentuk diskriminasi dan sensor.
“FCC era Trump berusaha menjadikan transgender sebagai sebuah label peringatan,” ujar Tyler Hack, direktur eksekutif kelompok advokasi hak transgender Christopher Street Project. “Ini sangat merendahkan martabat manusia, dan ini adalah bagian dari strategi politik yang lebih luas untuk menstigmatisasi komunitas LGBTQ+ di setiap sudut kehidupan publik,” pungkasnya.
Sarah Kate Ellis, presiden dan CEO GLAAD, menyebut pengumuman tersebut sebagai pelampauan batas wewenang pemerintah.
“Perusahaan media harus diizinkan untuk membuat dan menayangkan cerita yang merefleksikan seperempat dari pemirsa mereka tanpa campur tangan dari badan pemerintah yang memiliki agenda politik anti-transgender sendiri,” kata Ellis dalam sebuah pernyataan.
Ini bukan pertama kalinya Carr dituduh melakukan sensor. Carr sebelumnya pernah mengklaim bahwa para penyiar menayangkan “berita-berita bohong (hoaxs pura-pura)” dan “distorsi informasi” yang kebetulan tidak menguntungkan Presiden Trump. Carr bahkan mengisyaratkan bahwa lisensi penyiar tersebut mungkin tidak akan diperpanjang.
Pada bulan Maret, puluhan pakar kebebasan berbicara dalam sebuah surat terbuka kepada Carr berargumen bahwa ancaman terhadap para penyiar tersebut merupakan “intimidasi yang melanggar hukum,” dan bahwa karakterisasi samar tentang “berita palsu” melanggar Amandemen Pertama. Para penulis surat mendesak Carr untuk “mencabut” ancaman-ancamannya.