Militer Indonesia Bantah Keterlibatan dalam Kematian Anak di Papua

Jakarta (ANTARA) – Militer Indonesia menyatakan pada Senin bahwa pasukannya tidak terlibat dalam penembakan anak yang tewas di Papua Tengah. Pihak berwajib sedang menyelidiki insiden ini di tengah keresahan yang berlangsung di wilayah tersebut.

“Tidak ada personel TNI yang bertugas di Desa Jigiunggi pada saat kejadian penembakan,” kata Letnan Kolonel Wirya Arthadiguna, juru bicara Komando Operasi Gabungan Habema, dalam sebuah pernyataan.

Militer melaporkan dua insiden terpisah pada Selasa, 14 April. Bentrokan pertama di Desa Kembru dikonfirmasi melibatkan anggota bersenjata dari Kelompok Bersenjata Papua Merdeka (OPM).

Arthadiguna menyebut pasukan merespons laporan warga tentang kehadiran insurgien OPM di Kembru dan bergerak untuk memverifikasi informasi di lapangan.

Dia mengatakan para pemberontak menembak lebih dulu, memicu baku tembak di mana empat insurgien tewas dan peralatan mereka disita oleh pasukan Indonesia.

Dari insiden Kembru, pasukannya menyita dua senjata rakitan, satu senapan angin, amunisi, busur panah, dan beberapa senjata tajam, tambahnya.

Pada hari yang sama, pihak berwenang menerima laporan dari kepala desa Jigiunggi, Venius Walia, mengenai seorang anak yang meninggal akibat luka tembak.

“Personel TNI segera memverifikasi laporan. Kematian tersebut dikonfirmasi, tetapi penyebab penembakan masih dalam penyelidikan,” ujar Arthadiguna.

Dia menekankan bahwa temuan awal menunjukkan kematian anak tersebut bukan disebabkan oleh personel militer Indonesia.

Militer berjanji akan melakukan penyelidikan yang transparan dan profesional untuk mengetahui keadaan seputar insiden itu.

Kekerasan separatisme terkait OPM telah meningkat di provinsi paling timur Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, menyasar warga sipil, pekerja infrastruktur, dan aparat keamanan.

Aksi-aksi tersebut telah meningkatkan kekhawatiran keamanan di daerah terpencil Papua, di mana bentrokan antara kelompok bersenjata dan militer terjadi secara sporadis.

MEMBACA  3 Negara yang Membela Iran dalam Perang Melawan Israel, Dua di Antaranya Pemilik Senjata Nuklir

Salah satu kasus paling menonjol adalah penculikan pilot Selandia Baru, Phillip Mark Mehrtens, pada 7 Februari 2023, oleh pejuang yang dipimpin Egianus Kogoya di Kabupaten Nduga.

Mehrtens ditahan selama lebih dari setahun sebelum dibebaskan pada September 2024.

Berita terkait: Papuan separatists kill three ojek drivers: military

Berita terkait: Papuan rebels assault workers in Puncak: police

Penerjemah: Walda Marison, Nabil Ihsan
Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar