Produsen Mobil Listrik Usulkan Hak Istimewa di Jalan bagi Penggunanya

Jumat, 17 April 2026 – 19:12 WIB

Jakarta, VIVA – Upaya untuk mempercepat penggunaan mobil listrik di Indonesia masih ada kendala, terutama dari sisi kebijakan insentif yang belum lengkap. Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia, Frans Soerjopranoto, berpendapat insentif saat ini masih terlalu fokus pada tahap pembelian awal saja.

Menurut beliau, pendekatan seperti itu kurang kuat untuk mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik secara besar-besaran. Soalnya, keputusan beli konsumen nggak cuma diliat dari harga awalnya, tapi juga biaya pakai jangka panjang.

Frans menjelaskan, insentif harusnya dirancang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan pengalaman pengguna selama memiliki mobil. Ia memberi contoh, kendaraan listrik yang emisinya lebih rendah seharusnya dapat keuntungan tambahan dalam pemakaian sehari-hari.

“Kalau mobilnya memang lebih ramah lingkungan, harusnya ada manfaat yang dirasakan waktu dipakai. Misalnya pas bayar tol atau parkir, bisa dapat kelebihan,” kata Frans di Jakarta belum lama ini.

Pernyataan ini menunjukkan perlunya perubahan pendekatan dalam kebijakan mobil listrik. Selama ini, insentif dari pemerintah biasanya berupa potongan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau pembebasan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), yang cuma berpengaruh di harga beli.

Padahal, dalam konteks lebih luas, faktor biaya operasional dan kemudahan penggunaan justru jadi pertimbangan penting bagi konsumen. Insentif berbasis pemakaian dinilai bisa kasih nilai tambah yang lebih nyata, sekaligus memperkuat daya saing mobil listrik dibanding mobil konvensional.

Selain itu, Frans juga menekankan pentingnya dukungan untuk ekosistem, termasuk peran jaringan dealer. Ia menyebut, edukasi ke konsumen adalah salah satu kunci untuk mempercepat adopsi teknologi baru.

Menurut dia, dealer nggak cuma berfungsi sebagai tempat jualan, tapi juga jadi ujung tombak dalam memberikan pemahaman tentang karakteristik dan keunggulan mobil listrik. Makanya, diperlukan dukungan kebijakan yang juga mempertimbangkan peran tersebut.

MEMBACA  Guncangan Pasokan Energi Global: Dampaknya bagi Indonesia

“Dealer melakukan edukasi ke konsumen, jelasin teknologi dan manfaat mobil listrik. Itu butuh usaha ekstra, jadi perlu ada dukungan juga,” ujarnya.

Di sisi lain, Hyundai melihat bahwa preferensi konsumen di Indonesia masih beragam. Nggak semua pengguna siap beralih ke kendaraan listrik baterai. Sebagian masih pertahankan mobil mesin bakar, sementara yang lain mulai lihat teknologi hybrid sebagai pilihan alternatif.

Tinggalkan komentar