Emma Grede Ungkap Awal Masa Kejayaan Skims Senilai $5 Miliar: Diawali Telepan Berani ke Kris Jenner

Emma Grede: Dari Telepon Berani ke Kerajaan Bisnis

Anda mungkin tahu Emma Grede, pengusaha dari Inggris, karena Skims. Itu perusahaan shapewear senilai $5 miliar yang dia jalankan dengan Kim Kardashian. Dia juga investasi di merek lain dengan keluarga itu, seperti perusahaan pembersih Safely dan merek pakaian Kylie Jenner, Khy. Semua kerajaan bisnisnya ini berawal dari satu telepon berani ke Kris Jenner yang mengubah segalanya.

Tahun 2015, Grede punya agen bakatnya sendiri, Independent Talent Brand. Pekerjaannya sering bawa dia terbang antara London dan Los Angeles. "Saya kenal semua manajer, agen, publisis, dan pengacara di Hollywood. Itu pekerjaan saya," kata Grede.

Posisi itu sempurna untuk menawarkan idenya: merek denim inklusif untuk wanita yang sering diabaikan fashion mainstream. Di pikirannya, dia sudah punya partner yang tepat: Khloé Kardashian, yang "mewakili ide itu dari awal". Khloé sering jujur tentang pengalamannya sebagai saudari yang berlekuk.

Tapi masalahnya: Grede belum pernah menjalankan bisnis fashion, dan mereka belum pernah kerja sama. Daripada nunggu perkenalan, dia berani telepon sang "momager" keluarga, Kris Jenner sendiri.

"Saya punya ide, dan saya sudah bayangkan kemitraannya," kata wanita berusia 43 tahun ini. "Bedanya saya dengan orang lain adalah saya yang telepon, saya yang minta rapat, dan saya yang wujudkan."

"Saya tidak punya sindrom penipu dan tidak berkhayal tentang siapa yang bisa jalankan bisnis," tambah Grede. "Saya pikir, ‘Kalau bukan saya, lalu siapa?’"

Jenner tanya kapan Grede terbang ke L.A. lagi untuk bicara langsung. Saat itu, Grede cuma ke sana sekali tiap tiga bulan. Tapi dia cepat-cepat bohong dan bilang akan ke sana minggu depan. Dan itulah yang dia lakukan — sisanya adalah sejarah.

MEMBACA  Soho House Menjadi Privat dalam Kesepakatan Senilai $2,7 Miliar dengan Ashton Kutcher Bergabung ke Dewan Klub Eksklusif

Saat Good American denim diluncurkan setahun kemudian, langsung dapat $1 juta di hari pertama. Itu jadi peluncuran denim terbesar dalam sejarah. Sejak itu, dia duduk di dewan Obama Foundation dan jadi investor perempuan kulit hitam pertama di Shark Tank. Baru-baru ini, dia kerja sama dengan juara tenis Coco Gauff untuk kampenye mentorship dengan UPS.

Sekarang, Grede selalu nasihati pendiri bisnis untuk meniru dia: lebih berani dan ambil risiko. "Ide di kepala cuma ide di kepala. Banyak orang cuma bicara — kadang kamu harus bertindak."

Emma Grede: "Saya Selalu Berani"

Percaya dirinya Grede bukan cuma keberuntungan. Itu sifat bawaan lahir. "Saya punya banyak keberanian. Kamu butuh itu untuk capai tujuan," katanya.

Contohnya, waktu remaja, Grede bercita-cita kerja di teater ternama Inggris. Saat bos teater abaikan suratnya minta pengalaman kerja, dia langsung datangi sendiri.

"Saya ingat jalan kaki di West End," kenangnya. "Saya pikir mungkin surat saya tidak sampai, jadi saya antar sendiri."

Bahkan saat kerja sambilan di toko pakaian, dia berani tanya pelanggan yang kariernya keren untuk minta pengalaman kerja — dan itu berhasil.

"Saya akan ajak bicara semua orang. Tanya, ‘Anda kerja di mana? Kerjanya apa?’ Kalau ada stylist datang Jumat dan ada pemotokan di akhir pekan, saya akan bantu mereka. Saya sering lakukan itu."

Dia aktif menciptakan "situasi", bukan nunggu peluang. Setelah tahu pekerjaan pelanggan, dia lanjut tanya: "Butuh bantuan? Boleh saya ikut?"

Nasihat Grede untuk Gen Z: Lakukan Apa Saja

Banyak anak Gen Z sekarang menganggur (NEET: tidak kerja, tidak sekolah, tidak pelatihan).

Sementara Grede sudah kerja sejak awal SMA.

MEMBACA  Karyawan Awal Kalshi Kumpulkan Dana Hingga $35 Juta untuk Dana VC Pasar Prediksi

"Saya sudah punya pekerjaan sejak umur 12," katanya. "Saya mulai mengantar koran, lalu kerja di toko daging, lalu di empat toko pakaian berbeda. Lalu satu setengah tahun saya magang di setiap desainer kecil dan agensi PR di London. Lalu saya kerja di Quintessentially, lalu Inca Productions, perusahaan produksi fashion show. Setelah tiga tahun, saya pindah dari produser acara jadi kepala departemen sponsor. Lalu saya buka perusahaan sendiri."

Intinya, setiap pengalaman menuntun ke langkah berikutnya. Setiap peran — betapapun biasa — dia anggap cara untuk kumpulkan skill, kenalan, dan kredibilitas yang berguna untuk langkah selanjutnya.

Tentu, Grede juga sering dapat penolakan: "Saya jadi sangat, sangat terbiasa dengan penolakan. Kalau saya pikir berapa banyak hal yang gagal, jumlahnya jauh lebih banyak dari yang sukses di atas kertas."

Tapi dia bangkit dan coba lagi. Karena itu nasihatnya untuk yang kesulitan: anggap setiap pengalaman sebagai langkah maju — meski bukan pekerjaan impian.

"Saya akan pikirkan soal skill yang bisa dipindahkan (transferable skills)," nasihatnya untuk Gen Z. "Kita sering fokus pada tepatnya apa yang kita mau. Kenyataannya, kamu bisa belajar skill yang serupa di mana saja."

Dulu, Grede sangat ingin kerja di fashion. "Saya bisa dapat banyak skill itu di agensi iklan atau industri kreatif lain," jelasnya. Dapat pengalaman di galeri seni atau butik, lalu naik perlahan, lebih mudah daripada memaksakan langsung kerja di rumah mode setelah lulus. Kuncinya: kesampingkan ego, utamakan momentum daripada kesempurnaan.

"Lakukan apa saja supaya kamu bisa bergerak maju," kata Grede.

"Di Inggris ada pepatah bagus, ‘bunuh kesayanganmu’ (killing your darlings). Kadang kamu harus lakukan itu. Lakukan apa yang perlu untuk maju. Lebih baik fokus pada gerak maju daripada terpaku pada bayangan awal kamu tentang bagaimana seharusnya."

MEMBACA  Suku Bunga KPR dan Refinance Hari Ini, 24 Maret 2026: Terus Melambung

Tinggalkan komentar