Rabu, 15 April 2026 – 16:35 WIB
Jakarta, VIVA – Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sekarang makin mempercepat transformasi digital di berbagai sektor industri.
Dari peningkatan efisiensi operasional sampai pengambilan keputusan berdasarkan data, AI sudah menjadi bagian penting dalam strategi bisnis modern.
Tapi, di balik percepatan itu, muncul tantangan baru yang tidak bisa diabaikan. Seiring dengan makin banyaknya penggunaan AI, organisasi sekarang harus mengelola lebih banyak sistem, lebih banyak data, serta konektivitas yang makin luas antar lingkungan IT.
Kondisi ini bikin infrastruktur teknologi menjadi makin kompleks dan di waktu yang sama, memperbesar potensi risiko keamanan.
“Banyak perusahaan fokus memanfaatkan AI untuk efisiensi, tapi lupa bahwa teknologi yang sama juga dipakai oleh hacker. Pertanyaannya bukan lagi apa akan diserang, tapi kapan?” kata Country Manager Synology Indonesia, Clara Hsu, di Jakarta, Rabu, 15 April 2026.
AI tidak lagi dilihat sebagai teknologi coba-coba. Investasi global yang terus naik menunjukkan bahwa AI sudah menjadi fondasi dalam mendorong akselerasi digital perusahaan. Namun, teknologi ini juga membuka peluang baru bagi pelaku kejahatan siber.
Dengan AI, proses serangan yang sebelumnya dilakukan secara manual sekarang bisa diotomatisasi, mulai dari pemindaian sistem sampai penyusunan strategi serangan.
“AI bikin serangan menjadi lebih cepat, lebih personal, dan lebih sulit dideteksi. Ini yang membuat ancaman siber sekarang jauh beda dari dulu,” jelas Clara.
Pola serangan seperti phishing, pencurian kredensial, dan ransomware masih jadi metode utama. Tapi caranya sekarang jauh lebih canggih. Serangan phishing, contohnya, sekarang bisa disusun secara sangat personal.
Pesan yang dikirim tidak lagi terlihat umum, melainkan disesuaikan dengan konteks pekerjaan, jabatan, bahkan gaya bicara target. Hal ini membuat serangan menjadi jauh lebih meyakinkan dan sulit dikenali.
Setelah kredensial berhasil didapat, pelaku bisa masuk ke dalam sistem dan bergerak secara diam-diam. Dalam banyak kasus, serangan tidak langsung dilakukan.
Pelaku malah menunggu momen yang paling penting seperti akhir kuartal atau periode bisnis sibuk untuk menjalankan ransomware dan memaksimalkan dampak terhadap operasional.
Halaman Selanjutnya
Dari backup ke cyber resilience