Keluarga di Sudan Bertahan Bertahun-tahun dalam Pengungsian, Kelaparan, dan Kehilangan | Berita Kejahatan terhadap Kemanusiaan

Diterbitkan pada 15 Apr 2026

Para keluarga di seluruh Sudan terpaksa meninggalkan rumah, kota, dan negara mereka setelah perang melanda jalan-jalan pada April 2023.

Tiga tahun berlalu, sebagian besar masih terus mengungsi.

Survei terbaru dari Norwegian Refugee Council (NRC) terhadap 1.293 rumah tangga pengungsi di Sudan, Chad, dan Sudan Selatan mengungkap siklus kehancuran yang dialami keluarga-keluarga ini. Setiap relokasi paksa mengikis sisa-sisa kehidupan mereka sebelumnya.

Sekitar 90 persen kehilangan tempat tinggal. Hampir tiga perempat tidak memiliki penghasilan. Kelangkaan pangan telah mencapai tingkat kritis, dengan lebih dari 80 persen rumah tangga di Sudan dan hampir semua di Sudan Selatan kerap melewatkan waktu makan.

Di dalam Sudan, lebih dari sembilan juta orang tetap mengungsi, sementara hampir 29 juta lainnya menghadapi kelaparan akut.

Trauma yang bertumpuk sungguh luar biasa. Pada pengungsian keempat mereka, hampir dua per tiga responden melaporkan kelelahan total dan sumber daya yang habis. Sekitar 65 persen telah terpisah dari anggota keluarga.

Di tengah kesulitan ini, solidaritas yang luar biasa tetap bertahan. Di Sudan dan Chad, sekitar satu dari tiga penerima bantuan masih membagikan pasokan mereka yang terbatas kepada tetangga, orang asing, dan pendatang baru yang lebih kekurangan.

Selama tiga tahun, dukungan saling membantu ini menjadi tulang punggung tak terlihat dari respons kemanusiaan – namun survei menunjukkan bahwa jalur kehidupan ini kini telah mencapai titik puncak keambangannya.

“Di Sudan sekarang, kau selalu berlari,” kata Amina, yang melarikan diri dari Khartoum bersama empat anak dan hanya pakaian yang melekat di badan setelah suaminya hilang di hari-hari awal pertempuran. “Lari dari perang. Lari mencari makanan.”

MEMBACA  Undang-Undang Tempat Ibadah Kontroversial India

Kesempatan pendidikan telah runtuh, dengan hanya 45 persen anak-anak pengungsi di ketiga negara yang rutin bersekolah. Sekitar 18 persen rumah tangga terpaksa menyuruh anak mereka bekerja.

Kesimpulan survei ini lugas: Masyarakat telah menopang krisis ini dengan ketangguhan dan kemurahan hati. Kini mereka memberi sinyal bahwa mereka tidak dapat terus memikul beban ini sendirian lebih lama lagi.

Esai foto ini disediakan oleh Norwegian Refugee Council.