Pengorbanan Indonesia di Lebanon dan Paradigma Penjagaan Perdamaian

Jakarta (ANTARA) – Bisa dibilang hanya segelintir orang Indonesia yang bisa menunjuk Adchit al-Qusayr atau Bani Hayyan di peta dunia.

Nama-nama itu terdengar jauh, hampir asing, seolah tak punya kaitan berarti bagi masyarakat di kepulauan terbesar dunia ini.

Peristiwa di lokasi-lokasi itu pada akhir Maret lalu ternyata sangat menentukan, menghancurkan ketidaktahuan dengan cara yang tak terduga. Namun kabar yang dibawa sungguh memilukan bagi bangsa.

Di dua tempat yang tampak tak penting di Lebanon selatan, tiga pasukan perdamaian dari TNI gugur saat bertugas dengan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL).

Kopral Dua (Anumerta) Farizal Rhomadhon gugur setelah terkena tembakan artileri tidak langsung.

Saat publik Indonesia masih mencerna kabar duka itu, keesokan harinya dua pasukan perdamaian lagi gugur: Mayor (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Kepala (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan.

Kabar gugurnya mereka menyebar ke seluruh dunia melalui saluran televisi dan internet, lewat laporan singkat, pernyataan resmi, dan ucapan belasungkawa.

Meski tragis, kehilangan seperti ini seringkali hanya menarik perhatian publik sesaat, lalu tenggelam oleh derasnya arus informasi di era paparan digital yang terus-menerus.

Namun setiap orang punya kisah; mereka tidak bisa direduksi hanya jadi nama atau statistik. Dengan kepergian mereka, tersisa narasi publik dan pribadi.

Kisah publik cenderung cepat hilang, mudah tersisih. Sementara kisah pribadi tetap membekas, terungkap setelah pemberitaan usai dan rumah menjadi sunyi.

Di sisi pribadi itu, mungkin ada anak-anak yang menanti-nanti langkah kaki ayahnya di depan pintu.

Mungkin ada pasangan hidup yang harus berdamai dengan kehilangan sambil membangun kembali keluarga lewat kenangan yang tak mau pudar.

Di momen pahit ini, kata "pengabdian" kehilangan kilau heroiknya, tergantikan oleh sesuatu yang lebih nyata: kerugian yang tak tergantikan yang tak sepenuhnya bisa dipahami.

MEMBACA  Petunjuk dan Jawaban Edisi Olahraga Connections NYT Hari Ini (31 Januari, #495)

Perdamaian dunia tak lagi jadi konsep abstrak. Ia turun dari perundingan geopolitik tingkat tinggi ke kesadaran mereka yang terdampak langsung—yang bergulat dengan duka.

Perdamaian mungkin digambarkan sebagai kondisi ideal dunia, sebuah utopia tanpa permusuhan, ketakutan, dan kekerasan.

Namun para penjaga perdamaian, seperti tiga prajurit TNI yang gugur itu, justru sering bertugas di tempat yang jauh dari kedamaian, berdiri tegar di zona abu-abu antara stabilitas dan kekacauan.

Mereka jadi bagian dari teka-teki ironi, mewujudkan kontradiksi antara upaya menciptakan perdamaian dan kekerasan yang mengiringinya.

Kehadiran pasukan perdamaian PBB mengingatkan umat manusia bahwa perdamaian bukanlah keadaan permanen, melainkan kondisi yang diidamkan dan butuh penjagaan terus-menerus di tengah ketidakpastian.

Indonesia telah lama mengukir namanya dalam upaya ini, mengirimkan personel militer terbaiknya ke zona konflik di berbagai penjuru dunia, termasuk Lebanon.

Mereka dipercaya untuk berpatroli di desa-desa yang tegang, memantau gencatan senjata yang rapuh, dan memungkinkan warga sipil hidup tanpa rasa takut, bekerja berdampingan dengan rekan dari negara-negara lain yang sepaham.

Para penjaga perdamaian ini menanamkan rasa bangga kolektif bagi rakyat Indonesia, membuat Bendera Merah Putih tetap relevan dalam upaya perdamaian global. Namun kebanggaan ini berjalan beriringan dengan risiko.

Dengan setiap prajurit yang dikirim ke zona abu-abu, keluarga di rumah hanya bisa berharap-harap cemas akan kepulangan yang selamat. Tak ada yang pernah bisa sepenuhnya siap menerima kemungkinan menyambut penjaga perdamaian pulang dalam peti jenazah.

Ketiga prajurit TNI yang gugur itu telah kembali ke tanah air, disemati penghormatan penuh oleh Presiden Prabowo Subianto dan bangsa, dan akhirnya bersatu kembali dengan keluarga.

Rentetan peristiwa ini mengubah kemegahan geopolitik menjadi kisah-kisah personal, memasukkan kompleksitas hubungan internasional ke dalam ruang keluarga yang berduka.

MEMBACA  Judul: Kisah Inspiratif Yisti Yinika, Membangun Bisnis Bermodal Jastip Pakaian Karya UMKM Lokal (Penulisan dipercantik dengan format yang rapi dan menarik, tanpa tambahan teks lain.)

Dalam latar ini, satu pertanyaan mengiang: apakah perdamaian benar-benar sebanding dengan pengorbanannya?

Bebas dan aktif

Tak terpisahkan dari kisah ini adalah politik luar negeri bebas aktif Indonesia, sebuah doktrin yang terus dipegang teguh republik ini sejak terbebas dari penjajahan.

Dicetuskan oleh wakil presiden pertama Mohammad Hatta dalam pidatonya tahun 1948 "Mendayung di Antara Dua Karang," pendekatan ini membayangkan Indonesia mengarungi sistem internasional dengan netralitas yang berprinsip, sambil tetap terlibat dalam hubungan konstruktif.

Indonesia bercita-cita membangun jembatan di dunia di mana banyak yang memilih tembok.

Namun dunia terus berjalan dengan logika yang berbeda. Konflik tak lagi terbatas pada citra tradisional satu pihak bentrok dengan pihak lain; konflik semakin dibentuk oleh aktor non-negara, milisi bersenjata, kepentingan tersembunyi, dan perang informasi yang mengaburkan batas antara kawan dan lawan.

Netralitas tak memberi jaminan keselamatan dalam situasi di mana peluru dan bom tak menghiraukan mandat internasional maupun itikad baik.

Setiap misi perdamaian mengandung ironi: mereka yang menjaga perdamaian seringkali yang paling dekat dengan tragedi.

Bahkan di tengah realitas suram ini, keliru jika menganggap Indonesia naif karena bersikukuh pada dialog dan kerja sama di bawah payung multilateralisme—karena setia pada mandat konstitusionalnya untuk berkontribusi pada perdamaian dunia.

Bagaimanapun, idealisme bisa berbalik menjadi bumerang tanpa kewaspadaan. Kesedihan yang dibawa pulang dari Lebanon selatan adalah pengingat lagi bahwa misi perdamaian adalah wujud dari keputusan politik yang punya konsekuensi nyata, tidak selalu cerminan dari altruisme kemanusiaan.

Saat sebuah negara mengirimkan pasukan untuk membangun perdamaian, ia tak terhindarkan memapar diri pada risiko kehilangan, meminta pengorbanan tertinggi dari individu-individu yang membawa serta kisah keluarga, rencana hidup, dan masa depan mereka sendiri.

MEMBACA  Timnas Indonesia Terjebak di Grup Neraka, Shin Tae-yong Tak Masalah

Para penjaga perdamaian meninggalkan pelukan tanah air menuju zona perang hampir dalam kesunyian, tanpa sorak-sorai.

Kabar duka dari Lebanon selatan telah membawa rakyat Indonesia pada pemahaman bahwa mimpi mereka akan perdamaian dijaga oleh mereka yang tetap tak dikenal hingga perpisahan terakhir.

Editor: Rahmad Nasution
Hak Cipta © ANTARA 2026

Tinggalkan komentar