Saham Carnival (CCL) naik sedikit pada 8 April setelah ketegangan di Timur Tengah mereda. Ini membuat suasana di sektor perjalanan jadi lebih optimis.
AS dan Iran setuju gencatan senjata dua minggu, dengan syarat Selat Hormuz tetap dibuka. Karena itu, saham CCL naik dan mendekati level rata-rata bergerak 50-harinya.
Jika bisa tembus di atas $28.53, pergerakan naik diperkirakan akan lebih cepat. Tapi ingat, saham Carnival masih turun sekitar 17% dibanding titik tertingginya tahun ini.
Bagi operator kapal pesiar seperti Carnival, gencatan senjata adalah sinyal yang sangat bagus.
Saham CCL naik hari ini terutama karena harga minyak mentah jatuh drastis jadi sekitar $94 per barel. Ini terjadi setelah Presiden Donald Trump menahan serangan ke Iran.
Karena Carnival tidak lindungi nilai biaya bahan bakarnya, harga minyak yang turun langsung untungkan laba mereka. Tekanan pada margin yang ada sejak Februari jadi berkurang.
Selat Hormuz yang dibuka kembali juga tingkatkan kepercayaan konsumen untuk rencanakan perjalanan internasional.
Intinya, karena “pajak geopolitik” sudah hilang untuk sementara, investor kembali fokus pada laporan keuangan Q1 Carnival yang bagus dan volume pemesanan yang kuat.
Analis Mizuho, Ben Chaiken, juga tetap positif pada CCL. Ia menyebutkan perusahaan hampir tidak punya operasi perjalanan Amerika Utara-Eropa dan tidak lindung nilai bahan bakar.
Chaiken perkirakan Carnival bisa hasilkan arus kas bebas hingga $2 miliar pada 2027. Ia yakin pasar belum hargai potensi ini.
Meski ada ketegangan di Timur Tengah, kekuatan laba jangka panjang CCL tetap baik, didorong oleh pengeluaran penumpang di kapal dan pembangunan “Celebration Key”.
Karena saham Carnival diperdagangkan lebih murah dibanding pesaing seperti Royal Caribbean (RCL), Chaiken lihat peluang teknis ini sebagai titik masuk yang baik untuk investor jangka panjang.
Banyak analis Wall Street setuju dengan Ben Chaiken tentang Carnival Corp, apalagi perusahaan ini juga berikan dividen yield sebesar 2,13%.