Iran Serang Pipa Arab Saudi, Pasokan Minyak Global Susut 700.000 Barel

Jumat, 10 April 2026 – 12:16 WIB

Jakarta, VIVA – Setelah sempat reda akibat gencatan senjata, ketegangan geopolitik kembali memanas. Ini terjadi setelah Israel melancarkan serangan mendadak ke Lebanon. Menanggapi sekutu Amerika Serikat, Iran membalas dengan menyerang infrastruktur energi Arab Saudi, yang mengguncang pasar global.

Iran menyerang jalur pipa strategis milik Arab Saudi, yaitu Pipa East-West. Pipa ini mengalirkan minyak mentah dari Teluk Persia ke Yanbu di Laut Merah. Serangan ini mengurangi kapasitas aliran minyak lewat pipa tersebut sekitar 700.000 barel per hari, menurut laporan CNBC Internasional.

Padahal, jalur pipa ini mampu mengalirkan hingga 7 juta barel per hari dan jadi andalan Arab Saudi untuk ekspor minyak selama konflik. Pemerintah Riyadh terpaksa mengandalkan jalur ini karena pengiriman lewat Selat Hormuz semakin sulit akibat serangan dari Iran.

Serangan Iran juga menyasar fasilitas produksi utama Arab Saudi, seperti ladang minyak Manifa dan Khurais. Dampaknya, produksi minyak Arab Saudi turun sekitar 600.000 barel per hari.

Ledakan terjadi di kilang minyak Iran di Pulau Lavan

Beberapa kilang minyak lain juga dilaporkan jadi target. Gangguan ini memperburuk krisis pasokan global yang sudah tertekan sejak serangan ke kapal tanker di Selat Hormuz.

Selat ini menghubungkan produsen minyak Teluk seperti Arab Saudi dan UEA ke pasar global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati sini sebelum AS dan Israel serang Iran pada 28 Februari.

CEO Abu Dhabi National Oil Company, Sultan Ahmed Al Jaber, menegaskan akses di Selat Hormuz masih sangat terbatas. Meski AS dan Iran setuju gencatan senjata selama dua minggu, syaratnya adalah pembukaan jalur pelayaran. Namun, kondisi di lapangan belum normal. Iran mewajibkan kapal tanker minta izin untuk lewat.

MEMBACA  Mengetahui Keunggulan Timnas Guinea U-23, Lawan Timnas Indonesia di Play-off Olimpiade

“Saat ini butuh kejelasan. Jadi mari kita perjelas: Selat Hormuz tidak terbuka. Aksesnya dibatasi, dikondisikan, dan dikendalikan,” tulis Al Jaber di media sosial.

Analis minyak dari Kpler, Matt Smith, menyebut gangguan di Teluk telah berdampak signifikan pada produksi energi global. Dia perkirakan produsen minyak di wilayah itu telah menghentikan produksi sekitar 13 juta barel per hari karena distribusi lewat Selat Hormuz terganggu.

Halaman Selanjutnya

Situasi ini menambah tekanan pada pasar energi global yang sudah rapuh, sekaligus meningkatkan kekhawatiran akan kenaikan harga minyak dalam waktu dekat.

Tinggalkan komentar