Pernyataan Perdana Menteri Israel Soal Kesediaan Bernegosiasi dengan Lebanon
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pemerintahannya siap menggelar pembicaraan langsung dengan Lebanon, sehari setelah serangan Israel ke negeri tetangga utaranya itu menewaskan ratusan jiwa dalam hari paling mematikan di babak pertikaian yang sedang berlangsung.
“Menyikapi permintaan berulang Lebanon untuk membuka negosiasi langsung dengan Israel, saya telah menginstruksikan kabinet kemarin untuk memulai negosiasi langsung dengan Lebanon secepat mungkin,” demikian bunyi pernyataan kantor Netanyahu pada Kamis.
“Negosiasi akan berfokus pada pelucutan senjata Hezbollah dan pembangunan hubungan damai antara Israel dan Lebanon.”
Pernyataan ini muncul sehari setelah serangan Israel di berbagai wilayah Lebanon menewaskan lebih dari 250 orang dalam serangkaian serangan dahsyat yang mengancam mengguncang gencatan senjata Amerika Serikat-Iran. Israel dan AS menyatakan Lebanon tidak tercakup dalam gencatan senjata dua minggu AS-Iran, yang bertujuan memberi ruang negosiasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari sebulan. Sementara Iran dan mediator Pakistan menyatakan Lebanon termasuk dalam gencatan senjata, dan sejumlah pemimpin internasional menyerukan hal yang sama.
Tak lama sebelum pengumuman mengejutkan Netanyahu tentang potensi pembicaraan, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan sedang mengupayakan jalur diplomatik dalam hal ini yang mulai dilihat “secara positif” oleh aktor-aktot internasional.
Kabinet Lebanon juga menginstruksikan pasukan keamanan untuk membatasi kepemilikan senjata di Beirut hanya pada lembaga negara, sebagai peringatan bagi kelompok bersenjata Hezbollah. “Tentara dan pasukan keamanan diminta segera mulai memperkuat penegakan penuh otoritas negara atas Gubernat Beirut dan memonopoli senjata hanya di tangan otoritas yang sah,” kata Perdana Menteri Nawaf Salam usai rapat kabinet.
Serangan terhadap Hezbollah
Beberapa jam sebelum membuka jalan bagi pembicaraan dengan Lebanon, Netanyahu mengatakan Israel akan terus menyerang Hezbollah “dengan kekuatan, ketepatan, dan tekad”.
Pertahanan sipil Lebanon menyatakan setidaknya 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 luka-luka pada Rabu akibat serangan Israel di Beirut pusat dan wilayah lain Lebanon. Salam menetapkan Kamis sebagai “hari berkabung nasional” untuk para korban. Namun, Israel melanjutkan bombardirannya semalam hingga Kamis, dengan klaim telah menewaskan Ali Yusuf Harshi, seorang ajudan pemimpin Hezbollah Naim Kassem. Belum ada komentar langsung dari kelompok bersenjata Lebanon tersebut.
Sementara itu, Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan pada Kamis bahwa tentara Israel menargetkan pusat kota Bint Jbeil dengan tembakan artileri berat. Di saat bersamaan, Hezbollah mengumumkan setidaknya 20 operasi melawan Israel dan menyatakan telah menargetkan kendaraan-kendaraan Israel di wilayah Lebanon.
Melaporkan dari Beirut, jurnalis Al Jazeera Malcolm Webb mengatakan tentara Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi paksa baru untuk pinggiran selatan ibu kota menjelang sebuah serangan. “[Ini adalah] area di mana ribuan orang awalnya mengungsi, jadi ini akan memaksa orang-orang untuk berpindah lagi, sekali lagi mencari tempat aman untuk menghindari kehancuran seperti yang kita lihat di salah satu lokasi di Beirut pusat yang terkena dampak lebih dari 24 jam lalu dalam gelombang pengeboman di seluruh kota,” kata Webb.
Sejak konflik Israel-Lebanon yang sedang berlangsung dimulai pada 2 Maret, Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi untuk sekitar 15 persen wilayah Lebanon, mengakibatkan lebih dari 1,2 juta orang mengungsi, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Kesepakatan Gencatan Senjata
Seiring dilanjutkannya serangan Israel ke Lebanon, kekhawatiran tumbuh mengenai dampaknya terhadap kesepakatan yang pada awalnya rapuh. Sejak Rabu, Iran berargumen bahwa serangan di Lebanon melanggar kesepakatan gencatan senjata. Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan pada Kamis bahwa serangan Israel ke Lebanon akan membuat negosiasi tak bermakna, seraya menambahkan Iran tidak akan meninggalkan rakyat Lebanon.
Namun, AS menyatakan Lebanon tidak tercakup dalam gencatan senjata, meski Pakistan yang bertindak sebagai mediator menyatakan Lebanon termasuk dalam kesepakatan. Negara-negara lain, termasuk Inggris, Prancis, Rusia, dan Turki, menyatakan gencatan senjata seharusnya diperluas ke Lebanon.
Delegasi dari AS dan Iran dijadwalkan bertemu di ibu kota Pakistan, Islamabad, pada Sabtu untuk pembicaraan mengenai pengakhiran perang.