WASHINGTON – Presiden Donald Trump mengklaim kemenangan total setelah gencatan senjata Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Namun, para kritikus bilang kesepakatan ini adalah contoh baru dari ucapan mereka bahwa presiden AS yang bicara keras selalu “chicken out” alias mundur karena takut.
Dalam waktu 12 jam yang menegangkan, Trump beralih dari memperingatkan bahwa “seluruh peradaban akan mati” menjadi memuji gencatan senjata sebagai hari besar bagi perdamaian dunia.
Namun, kenyataanya di lapangan menunjukkan gencatan senjata dua minggu ini masih goyah dengan banyak pertanyaan yang belum terjawab—khususnya tentang apakah Trump pernah berniat untuk menindaklanjuti ancaman mengerikannya.
“Presiden Trump terbukti sebagai kekuatan yang makin tidak bisa diprediksi dan sekutu yang tidak bisa diandalkan,” kata Peter Loge, direktur George Washington University’s School of Media, kepada AFP, Kamis (9/4/2026).
Mantan pengusaha dan penulis buku “Art of the Deal” itu sejak lama suka gaya negosiasi yang mengandalkan tekanan maksimal untuk dapatkan lebih banyak dari lawannya.
Trump bersikeras bahwa pendekatannya, yang termasuk janji untuk bom Iran hingga kembali ke “zaman batu” dengan target pembangkit listrik dan jembatan sipil, sudah mencapai tujuannya.
“Kemenangan total dan lengkap,” kata Trump ke AFP dalam wawancara telepon singkat setelah pengumuman di hari Senin. “100 persen. Nggak ada keraguan lagi,” tambahnya.
Gedung Putih juga tetap bersikeras bahwa semua berjalan sesuai rencana, menyatakan bahwa Trump selalu merencanakan Operasi Epic Fury berlangsung sekitar empat sampai enam minggu.