Riset yang terbit pekan ini mungkin akhirnya berhasil memecahkan salah satu misteri paling abadi seputar dunia kucing: Mengapa banyak kucing seringkali tak menghabiskan seluruh makanan dalam mangkuk mereka?
Para ilmuwan di Jepang mengamati kebiasaan makan kucing di laboratorium. Mereka menemukan bahwa semakin sering kucing diberi makanan kering yang sama secara berurutan, semakin sedikit yang mereka makan. Namun, begitu makanan berbeda diperkenalkan, atau bahkan sekadar aroma yang lain, nafsu makan kucing langsung melonjak kembali. Menurut para peneliti, studi ini mengindikasikan bahwa kebaruan memainkan peran besar dalam mengatur kemauan kucing untuk terus makan.
“Studi ini menunjukkan bahwa penghentian makan prematur pada kucing domestik erat kaitannya dengan faktor penciuman, bukan hanya kekenyangan fisiologis semata,” tulis mereka dalam makalah yang diterbitkan akhir pekan lalu di jurnal Physiology & Behavior.
Sifat Pilih-pilih Kucing
Seperti yang diketahui banyak pemilik, kucing bisa sangat pemilih dalam hal makanan.
Memang, mereka akan mengeong dan merengek jika sarapan terlambat satu menit dari biasa, namun begitu makanan ada di mangkuk, mereka mungkin hanya menghabiskan separuh atau kurang. Terkadang, kucing akan mencicil sisanya sepanjang hari; di kali lain, ia seakan meminta pemiliknya menambah makanan kembali, seolah mangkuk setengah kosong adalah kejahatan fatal yang dilakukan padanya. Bahkan saat kucing diberi akses mudah dan pasokan makanan konstan, mereka cenderung makan sering dalam porsi kecil sepanjang hari, alih-alih melahap sekaligus seperti anjing.
Semua ini menunjukkan bahwa pola makan kucing tidak hanya dipengaruhi oleh rasa kenyang, kata para peneliti. Pada manusia, paparan berulang terhadap makanan yang sama diketahui dapat mengurangi persepsi kita tentang kelezatannya, dan juga keinginan untuk terus mengunyah. Maka, peneliti ingin menguji secara empiris apakah hal serupa terjadi pada kucing.
Mereka merekrut dua belas kucing untuk berbagai eksperimen pemberian makan. Kucing-kucing tersebut diberi enam jenis makanan kering komersial berbeda (A hingga F) untuk menetapkan baseline konsumsi dan preferensi. Makanan F adalah yang paling disukai dengan margin lebar.
Dalam rangkaian eksperimen pertama, kucing diberi porsi makanan melintasi enam siklus selama periode dua jam. Dalam dua putaran, kucing makan makanan yang sama di semua siklus (A dan F); di putaran ketiga, kucing diberi makanan berbeda untuk setiap siklus.
Dalam kondisi makanan sama, kucing secara bertahap makan lebih sedikit seiring waktu, temuan para peneliti, bahkan dengan makanan F yang lebih disukai. Namun, mereka memakan lebih banyak total saat diberi rangkaian enam makanan berbeda.
Eksperimen terpisah melibatkan kucing yang makan lima siklus makanan sama, diikuti makanan berbeda pada siklus keenam. Seperti sebelumnya, kucing makan lebih sedikit dari makanan yang sama seiring waktu. Tapi pada siklus keenam yang baru, asupan makanan mereka melonjak kembali, bahkan saat diberi makanan yang awalnya kurang mereka sukai dibandingkan makanan berulang.
Eksperimen lain menunjukkan kucing makan lebih sedikit ketika terus terpapar aroma makanan sama di antara siklus makan, sementara aroma berbeda yang disajikan dengan makanan sama bisa meningkatkan asupan makanan kucing.
“Temuan ini membuktikan bahwa habituasi dan dishabituasi tergantung aroma secara dinamis mengatur motivasi makan pada kucing, memberikan wawasan baru tentang mekanisme sensorik yang mendasari pola khas mereka yakni makan sering dalam porsi kecil,” simpul para penulis.
Implikasi bagi Kucing
Studi tim ini didasarkan pada sampel kecil kucing yang tidak dikebiri, sehingga studi lebih lanjut diperlukan untuk memvalidasi temuan mereka. Dan sangat mungkin bahwa faktor penting lain dapat mempengaruhi nafsu makan kucing saat ini. Beberapa orang berpendapat bahwa kucing mungkin makan lebih sedikit dari mangkuk yang terus menyentuh kumisnya, contohnya, meski studi sejauh ini belum benar-benar mendukung hipotesis ini.
Cheddar ‘Chiz’ Cara menuntut camian, seperti biasa. © Ed Cara
Meski demikian, jika studi ini bertahan dalam uji waktu, ia bisa memiliki implikasi praktis bagi kucing dan pemiliknya, catat peneliti. Banyak kucing kehilangan nafsu makan saat sakit, misalnya, jadi memvariasikan makanan mereka mungkin mendorong mereka makan lebih banyak. Sebaliknya, tetap pada diet yang sama mungkin membantu kucing obesitas menurunkan berat badan lebih mudah.
Secara pribadi, saya bisa menambahkan beberapa bukti pendukung anekdotal. Beberapa tahun lalu, saya memperhatikan Cheddar, kucing saya yang biasanya rakus, mulai membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk menghabiskan makanan basah rasa tuna-nya. Setelah dinyatakan sehat oleh dokter hewan, saya berteori bahwa Cheddar mungkin sekadar bosan dengan rutinitasnya. Jadi saya beralih ke paket variasi dari merek makanan basah yang sama dan sesekali menambahkan makanan kering yang ramah gigi. Sejak itu, rasa lapar Cheddar tetap sama lahapnya seperti biasa.