loading…
Mantan Presiden SBY menilai PBB dalam hal ini UNIFIL seharusnya menghentikan penugasannya di medan perang yang masih membara, seperti yang terjadi di Libanon. Foto/Dok.SindoNews
JAKARTA – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berpendapat bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya UNIFIL, seharusnya menghentikan penugasan nya di area konflik yang masih panas, seperti di Lebanon. Pernyataan ini muncul setelah gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas sebagai penjaga perdamaian (Peacekeeper) di Lebanon beberapa hari lalu.
SBY menjelaskan bahwa satuan pemelihara perdamaian PBB, seperti Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang bertugas di Lebanon saat ini, misi mereka adalah menjaga perdamaian (peacekeeping), bukan ‘peacemaking’. Pasukan perdamaian tidak dilengkapi senjata berat dan juga tidak memiliki mandat untuk melakukan tugas-tugas tempur.
Baca juga: SBY Dukung Langkah Prabowo Desak PBB Investigasi Gugurnya 3 Prajurit TNI di Libanon
“Ini diatur dalam Bab 6 Piagam PBB. Bukan Bab 7 yang punya misi ‘to enforce the peace’, yang artinya melaksanakan tugas yang ‘lebih keras’ untuk ‘peacemaking’. Mereka seharusnya bertugas di ‘blue line’ atau di wilayah ‘blue zone’, yang bukan merupakan daerah pertempuran atau ‘war zone’,” kata SBY dalam pernyataannya yang ditulis di akun X, Minggu (5/4/2026).
Kontingen Indonesia, menurutnya, pada dasarnya bertugas di ‘Blue Line’ yang memisahkan wilayah Israel dengan Lebanon. Namun kenyataannya sekarang, area yang awalnya berada di sekitar ‘Blue Line’ sudah berubah menjadi ‘war zone’, di mana setiap hari terjadi pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah.
Bahkan, SBY mendengar kabar bahwa pasukan Israel sudah maju sejauh 7 km dari “Blue Line”. Kondisi ini, menurut dia, sangat membahayakan bagi ‘peacekeeper’ karena mereka setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang sedang terjadi.