Menyukai Omong Kosong Korporat Bisa Tanda Anda Lemah dalam Pengambilan Keputusan, Demikian Temuan Ahli Cornell

Kita semua pernah mengalaminya: di rapat kerja, berusaha mencegah mata kita jadi kosong saat rekan kerja melontarkan monolog panjang tentang "memanfaatkan strategi adaptif perusahaan untuk mengoptimalkan nilai dan menyegarkan kembali operasi kita."

Bahasa yang tidak jelas dan penuh istilah trendi itu punya nama: "corporate bullshit." Begitu menurut Shane Littrell, seorang psikolog kognitif dan peneliti pascadoktoral di Universitas Cornell.

Dalam empat studi dengan 1018 partisipan, Littrell membuat "Skala Penerimaan Corporate Bullshit," untuk mengukur seberapa tertarik seseorang pada jenis bahasa ini. Orang yang menganggap bahasa korporat yang penuh istilah sebagai hal yang mendalam dan informatif, cenderung mendapat nilai lebih rendah dalam hal kepemimpinan dan pengambilan keputusan di tempat kerja.

Ini bukan soal kecerdasan atau pendidikan, kata Littrell. Dia mencatat hasilnya seragam antara studi dengan partisipan yang 70% bergelar sarjana dan yang pendidikannya lebih rendah.

"Bagian dari itu berkaitan dengan lingkungan tempat Anda berada. Anda harus menggunakan bahasa itu sedikit untuk bisa beradaptasi di tempat kerja," ujarnya. "Siapapun bisa terjebak bullshit ketika itu dikemas agar menarik bias Anda."

Bahaya Bahasa Korporat yang Tidak Bermakna

Tempat kerja adalah "lahan subur" bagi bullshit untuk berkembang, kata Littrell, khususnya saat Anda berusaha mengesankan atasan dan bersaing dengan rekan.

Bahasa korporat yang tidak jelas bisa merusak kredibilitas dan semangat kerja. Ini bisa jadi masalah serius ketika seorang pemimpin menggunakannya, karena dapat merusak pemahaman karyawan tentang tujuan, umpan balik, atau keputusan.

Littrell mencontohkan kasus PepsiCo tahun 2008, saat laporan internal tentang redesign logo senilai $1 juta mereka bocor ke internet. Laporan itu berisi bahasa yang sangat membingungkan dan membuat perusahaan malu di media.

MEMBACA  Cara Menginstal iPadOS 26 Beta di iPad Anda (dan Model yang Mendukungnya)

Menciptakan Norma Baru Untuk Menghentikan Bullshit

Tidak harus begini selamanya, kata Littrell. Cara sederhana bagi perusahaan adalah menghargai perilaku "anti-bullshit" dengan menjadikan komunikasi yang jelas sebagai norma dari atasan hingga bawahan.

Dia menyarankan untuk menciptakan lingkungan yang mendorong orang yang bukan pemimpin untuk bertanya lebih banyak. "Kadang orang merasa tekanan sosial, takut terlihat bodoh jika bertanya karena mengira orang lain paham semua," jelasnya.

Terakhir, dia menganjurkan perusahaan untuk menghargai perilaku seperti komunikasi yang jelas dan banyak bertanya dalam penilaian kinerja. Hal-hal ini sangat kritis untuk membangun ekspektasi di tempat kerja.

Tinggalkan komentar