loading…
Angkatan Laut Iran meluncurkan rudal dari kapal. Foto/iran navy
WASHINGTON – Mengembalikan pelayaran bebas di Selat Hormuz, yang sedang diblokir Iran, bukanlah salah satu sasaran militernya Amerika Serikat (AS), kata pejabat AS dan media. Malahan, Washington memberi sinyal mereka berharap negara lain yang menangani masalah ini.
Teheran membatasi lalu lintas laut di jalur air utama itu sebagai balasan atas serangan AS-Israel yang bertujuan menjatuhkan pemerintahan Iran, yang dimulai lebih dari satu bulan lalu.
Berkurangnya aliran hidrokarbon dan komoditas penting lain dari Teluk Persia telah mendongkrak harga global, meningkatkan risiko gangguan ekonomi yang besar.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera hari Senin, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menampik gagasan bahwa Iran akan terus memungut bayaran dari kapal-kapal yang diizinkan melalui selat itu, tapi bilang mengamankan transit bebas bukan bagian dari tujuan perang Washington.
AS fokus pada melemahkan kemampuan militer Iran dan “sedang dalam perjalanan atau bahkan lebih cepat dari rencana,” klaim Rubio.
“Begitu operasi ini selesai, selat itu akan terbuka, dan akan terbuka dengan cara apapun,” tambahnya. Jika Iran bersikeras dengan syarat-syaratnya, “koalisi negara-negara dari seluruh dunia dan kawasan, dengan partisipasi Amerika Serikat, akan pastikan [Selat Hormuz] dibuka.”
Pemerintahan Presiden Donald Trump percaya upaya untuk mengamankan jalur sempit itu “akan mendorong konflik melampaui waktu empat sampai enam minggu yang mereka tetapkan” dan bermaksud untuk “mendesak sekutu di Eropa dan Teluk untuk pimpin pembukaan kembali selat tersebut,” lapor Wall Street Journal.