Minggu, 29 Maret 2026 – 13:30 WIB
VIVA – Media Iran melaporkan bahwa kemungkinan negaranya akan menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) sedang dibahas di Teheran.
Badan-badan pemerintah terkait, termasuk parlemen, saat ini dikabarkan sedang mempertimbangkan penarikan diri tersebut dengan “mendesak,” menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency.
Di akun media sosial X, Wakil Teheran Malek Shariati menyatakan bahwa “rencana darurat untuk mendukung hak nuklir” Iran memiliki tiga fokus utama.
Rencana tersebut mencakup keluarnya Iran dari NPT, pencabutan undang-undang terkait pelaksanaan kesepakatan nuklir Iran tahun 2014, serta dukungan untuk perjanjian internasional baru dengan negara-negara sekutu, seperti Shanghai dan BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, dan lain-lain.
Wacana penarikan diri ini muncul di tengah ketegangan di seluruh kawasan, menyusul serangan udara AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari, yang menyebabkan lebih dari 1.340 orang meninggal, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Meskipun para analis menyebutkan bahwa tujuan AS dalam perang ini belum jelas, Washington sejak lama telah menentang pengayaan bahan nuklir Iran hingga mencapai tingkat yang bisa dipakai untuk senjata nuklir.
Iran membalas serangan itu dengan meluncurkan drone dan rudal yang menyasar Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan militer AS. Serangan balasan ini mengakibatkan korban jiwa, kerusakkan infrastruktur, dan gangguan pada pasar global serta penerbangan. (Ant)