Sering Terabaikan, Gangguan Mata Ini Dialami 76 Juta Penduduk Indonesia

Minggu, 29 Maret 2026 – 09:51 WIB

Jakarta, VIVA – Gangguan mata kering masih sering dianggap sepeleh oleh banyak orang. Padahal, kondisi ini diperkirakan dialami sekitar 27,5 persen populasi Indonesia atau lebih dari 76 juta orang. Minimnya kesadaran membuat banyak kasus tidak terdiagnosis sejak dini, sehingga berpotensi mengganggu kualitas hidup.

Gejala mata kering sendiri bisa beragam, mulai dari rasa perih, mata lelah, sensasi seperti berpasir, hingga penglihatan yang kabur. Karena sering muncul ringan dan hilang timbul, kondisi ini kerap diabaikan dan tidak segera ditangani. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

Fenomena ini menjadi perhatian dalam dunia kesehatan mata. Salah satu upayanya melalui program Integrated Dry Eye Standardisation and Awareness Programme yang menekankan pentingnya deteksi dini dan penanganan terstandarisasi.

Direktur Pengembangan & Pendidikan JEC Group, Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, menekankan bahwa pendekatan terstruktur sangat penting.

“Penghargaan ini bukan hanya kebanggaan bagi JEC, tetapi juga validasi atas pendekatan kami dalam membangun layanan kesehatan mata yang terstandarisasi dan berorientasi pada pasien,” ujar Prof Tjahjono, dikutip Minggu 29 Maret 2026.

Melalui pendekatan tersebut, proses skrining kini bisa dilakukan lebih mudah, salah satunya dengan penggunaan Dry Eye Questionnaire-5 berbasis digital. Alat ini memungkinkan masyarakat mengenali gejala lebih awal.

Hasilnya, dalam satu tahun implementasi, terjadi peningkatan angka diagnosis mata kering rata-rata hingga 30 persen. Bahkan di beberapa tempat, peningkatan itu mencapai hingga 80 persen.

Tak hanya diagnosis, metode penanganan juga terus berkembang. Terapi seperti penanganan kelenjar meibomian hingga teknologi intense pulsed light mulai dimanfaatkan untuk hasil yang lebih optimal.

Di sisi lain, efisiensi layanan kesehatan juga penting untuk memastikan pasien mendapat penanganan cepat tanpa mengorbankan kualitas. Sistem alur pasien yang terstruktur dan dukungan teknologi digital dinilai mampu meningkatkan efektivitas layanan.

MEMBACA  Harga Bitcoin Terus Turun Jumat Ini? Ini Faktanya Sejauh Ini.

Halaman Selanjutnya

Prof. Tjahjono menambahkan bahwa inovasi akan terus dikembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Tinggalkan komentar