“Kau Tak Bisa Andalkan AI dalam Ujian Lisan”: Solusi Gaya Yunani Kuno untuk Tatapan Kosong Gen Z

Di kelas teknik biomedis Chris Schaffer di Universitas Cornell, mahasiswa harus berbicara langsung dengan pengajar dalam apa yang dia sebut “ujian lisan.” Ini adalah metode ujian tua seperti zaman Socrates dan jadi populer lagi di era AI.

Banyak profesor sekarang pakai ujian lisan dan gabungkan teknik lama dan baru. Mereka khawatir siswa pakai AI untuk kerjakan tugas, jadi mereka tidak tau apa yang siswa benar-benar pelajari. Tugas esai yang dikumpulkan kadang sempurna, tapi saat diminta jelaskan, siswa tidak bisa.

Di Universitas Pennsylvania, Profesor Emily Hammer sekarang pasangkan ujian lisan dengan tugas tulis. Dia bilang ini bukan cuma untuk cegah nyontek, tapi karena siswa kehilangan keterampilan berpikir dan kreativitas.

Beberapa universitas lain juga mulai lebih banyak pakai ujian tatap muka, baik tertulis maupun lisan. Selama pandemi, minat pada ujian lisan meningkat karena khawatir soal nyontek online.

Di Universitas New York, seorang profesor malah pakai AI untuk ujian lisan. Siswa bicara dengan chatbot yang suaranya dikloning dari profesor. Tujuannya untuk periksa apakah siswa paham pekerjaan mereka atau hanya numpang nama.

Banyak siswa yang awalnya gugup dengan ujian lisan, tapi akhirnya lebih suka. Mereka merasa lebih bertanggung jawab dan dapat kesempatan berbicara langsung dengan pengajar.

Ujian lisan juga bisa bantu siswa yang pemalu. Kadang, dalam percakapan satu lawan satu, siswa yang pendiam justru lebih bisa mengeluarkan pendapatnya.

MEMBACA  Generasi Z Tak Mampu untuk Kencan, Tapi CEO Grindr Soroti Masalah Sebenarnya: Monetisasi Asmara oleh Aplikasi

Tinggalkan komentar