Rabu, 25 Maret 2026 – 07:00 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan memberi lampu hijau untuk serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada tanggal 28 Februari lalu. Ini terjadi setelah percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Panggilan penting ini berlangsung kurang dari 48 jam sebelum serangan dimulai.
Sebelumnya, Trump memang sudah setuju dengan aksi militer ke Iran. Tapi, waktu pelaksanaan dan bentuk keterlibatan AS saat itu masih belum diputuskan.
Menurut beberapa sumber, baik Netanyahu maupun Trump menerima laporan intelijen. Laporan itu menyebutkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akan segera rapat dengan pejabat-pejabat utamanya di kompleksnya di Teheran. Bahkan, jadwal rapat itu dimajukan dari Sabtu malam ke Sabtu pagi, kata tiga sumber yang tahu isi pembicaraan mereka.
Rapat itu dinilai membuat Khamenei dan para pejabatnya menjadi sasaran yang rentan untuk serangan langsung yang menargetkan pimpinan tertinggi. Taktik seperti ini sering dipakai Israel, tapi jarang dilakukan oleh Amerika Serikat.
Dalam percakapan itu, Netanyahu mendesak agar operasi tetap dilanjutkan. Dia bilang ke Trump bahwa AS dan Israel mungkin tidak akan dapat kesempatan lebih baik untuk membunuh Khamenei. Sekaligus, ini untuk membalas dugaan upaya Iran sebelumnya yang ingin membunuh Trump.
Upaya tersebut merujuk pada rencana pembunuhan yang diduga diatur Iran pada tahun 2024, saat Trump masih jadi calon presiden. Departemen Kehakiman AS menuduh seorang pria asal Pakistan berusaha merekrut orang di AS untuk menjalankan rencana itu. Ini sebagai balasan atas terbunuhnya komandan tinggi Garda Revolusi Iran, Qassem Soleimani, oleh AS.
Lobi Netanyahu untuk Perang
Beberapa minggu sebelum percakapan Trump dan Netanyahu, AS sudah mulai mempersiapkan kemungkinan operasi militer. Mereka meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah. Langkah ini membuat banyak pihak di pemerintah Trump yakin bahwa keputusan untuk menyerang tinggal menunggu waktu saja. Bahkan, rencana serangan sebelumnya sempat dibatalkan beberapa hari lebih awal karena cuaca buruk.
Dalam panggilan itu, Netanyahu juga mengatakan kepada Trump bahwa dia bisa mencatat sejarah dengan membantu menjatuhkan kepemimpinan Iran yang dibenci oleh Barat dan sebagian rakyat Iran. Dia bahkan berpendapat bahwa aksi militer bersama AS-Israel bisa mendorong rakyat Iran turun ke jalan dan menggulingkan sistem teokrasi yang berkuasa sejak 1979.
Halaman Selanjutnya
Tidak jelas seberapa besar pengaruh argumen Netanyahu terhadap keputusan akhir Trump. Namun, percakapan itu dianggap sebagai ‘argumen penutup’ dari Netanyahu untuk meyakinkan Trump.