Hampir seperti respons histamin: usai peristiwa nasional yang mengejutkan—misalnya pembunuhan Charlie Kirk, atau penyebaran pasukan militer Donald Trump ke Los Angeles Juni lalu—rujukan istilah “perang saudara” dan seruan untuk memisahkan diri melonjak di dunia maya. Pembicaraan semacam ini kembali berkobar Januari lalu, ketika dua warga ditembak mati oleh agen imigrasi di jalanan Minneapolis, dan Gubernur Tim Walz mengerahkan Garda Nasional Minnesota untuk siaga mendukung penegak hukum setempat. “Maksud saya, apakah ini Fort Sumter kita?” kata Walz dalam suatu wawancara dengan The Atlantic, mengacu pada pertempuran yang memantik Perang Saudara. Dengan nada yang lebih ngawur, mantan Gubernur Minnesota Jesse Ventura mendorong negara bagiannya untuk memisahkan diri dari AS dan bergabung dengan Kanada. “Saya rasa seseorang perlu serius menghubungi Kanada dan menanyakan apakah mereka terbuka untuk ini,” ujarnya.
Dua pernyataan dari dua orang yang pernah menduduki jabatan yang sama ini cukup menggambarkan garis besar wacana populer tentang fragmentasi Amerika: perang saudara yang berlarut-larut adalah mimpi buruk, sementara pemisahan diri yang rapi adalah impian. Tetapi, mungkinkah yang satu terjadi tanpa yang lain? Dan seperti apa sebenarnya pemisahan diri di Amerika Serikat?
Sejak tahun 1990-an, beberapa futuris Lembah Silikon telah dengan dingin memprediksi perpecahan negara-bangsa Amerika yang dianggap usang—tanpa benar-benar merinci detil-detil mengerikan. Dan meme lawas yang secara bercanda membagi Amerika Utara menjadi “United States of Canada” biru dan “Jesusland” merah telah ada sejak pertengahan 2000-an. Namun, seiring Amerika merah dan biru kian terpolarisasi dalam hampir semua isu belakangan ini, semakin banyak orang dari berbagai spektrum menyimpulkan bahwa pemecahan melalui pemisahan diri memang solusi terbaik atas perbedaan tak terdamaikan di Amerika. “Kita perlu perceraian nasional. Kita perlu memisahkan diri berdasarkan negara bagian merah dan biru,” cuit anggota kongres Republik saat itu, Marjorie Taylor Greene dari Georgia, pada 2023. “Setiap orang yang saya ajak bicara mengatakan hal ini.” (Ini kurang lebih adalah alur film hit 2024 Civil War.)
Berusaha menyalurkan kegelisahan ini, sejumlah gerakan kemerdekaan terorganisir—seperti Calexit di California dan Texas Nationalist Movement, antara lain—tumbuh belakangan tahun ini dan mendapat dukungan yang meningkat. Jajak pendapat Axius 2023 menunjukkan bahwa 20 persen warga Amerika mendukung “perceraian nasional.” Dan dalam jajak pendapat YouGov yang dirilis beberapa hari setelah pelantikan kedua Trump, sekitar 61 persen warga California setuju dengan pernyataan bahwa negara bagian mereka “akan lebih baik jika memisahkan diri secara damai.”
Namun, disitulah persoalannya. Kenyataannya, pemisahan diri—proses di mana bagian dari negara berdaulat memisahkan diri untuk membentuk entitas baru—selalu penuh penderitaan. Sebagian besar upaya pemisahan diri gagal, dan sekitar setengahnya meletus menjadi kekerasan. Ketika pemisahan diri benar-benar terjadi secara damai, seperti dalam Perceraian Beludru Cekoslowakia, hampir selalu karena ada populasi yang secara nasional berbeda dan terkonsentrasi secara regional, yang memiliki batas internal dan status administratif khusus yang dapat digunakan untuk membenarkan tuntutan kemerdekaan mereka. Tidak satu pun karakteristik ini berlaku di Amerika Serikat kontemporer.
Pada kenyataannya, Amerika merah dan biru saling terjalin secara rumit. Perpecahan politik tidak hanya melintasi negara bagian—California biru memiliki jutaan pendukung Republik; Texas merah, jutaan pendukung Demokrat—tetapi juga lingkungan bahkan rumah tangga. Skenario pemisahan diri yang digerakkan ideologi hampir tak terelakkan akan memaksa pemisahan dan pengelompokan ulang warga Amerika yang berbahaya. Bayangkan mencoba menggambar peta baru yang koheren namun tetap memuaskan sebanyak mungkin orang dalam lingkungan yang sangat terpolarisasi; lalu bayangkan serangkaian dilema keamanan, populasi yang terdampar, dan pengungsi yang berlarian. Ini terjadi saat India dan Pakistan dipartisi pada 1947 dan ketika Siprus dipartisi pada 1974; kemungkinan besar ini juga akan terjadi di Amerika.