Sabtu, 21 Maret 2026 – 23:59 WIB
Jakarta, VIVA – Pergerakan pasar aset kripto saat ini dinilai dipengaruhi oleh hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Hal ini membentuk ekspektasi baru para investor terhadap kebijakan moneter.
Wakil Presiden Indodax, Antony Kusuma, menyatakan bahwa harga Bitcoin turun ke kisaran US$70.000 setelah hasil pertemuan FOMC menunjukkan sinyal kebijakan moneter yang masih cenderung ketat.
Sebelumnya, Bitcoin sempat menguat mendekati US$76.000 pada Selasa (17/03) didorong oleh arus masuk dana institusional ke spot Bitcoin ETF sebesar US$199,37 juta hingga sesi ketujuh berturut-turut. Total arus masuk selama tujuh hari itu mencapai US$1,16 miliar.
“Hal itu menunjukkan minat investor besar yang masih terjaga meskipun pasar mengalami volatilitas. Namun, setelah pertemuan FOMC, para investor melakukan penyesuaian yang mempengaruhi pergerakan harga, terlihat dari koreksi sekitar 7–8 persen,” kata Antony dalam keterangannya, Sabtu (21/3).
Menurut dia, keputusan FOMC yang mempertahankan suku bunga acuan serta menaikkan revisi proyeksi inflasi menunjukkan arah kebijakan The Fed yang masih cenderung hawkish.
“Pasar pun menangkap sinyal bahwa inflasi belum turun secepat yang diharapkan, sehingga likuiditas ke aset berisiko seperti kripto menjadi lebih terbatas. Namun, ini merupakan bagian dari penyesuaian pasar terhadap dinamika ekonomi global yang terus berkembang,” ujar Antony.
Dalam keputusan terbarunya, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50 – 3,75 persen dan menaikkan proyeksi inflasi untuk 2026 menjadi sekitar 2,7 persen. Ketua The Fed, Jerome Powell, menyampaikan bahwa penurunan suku bunga akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga energi.
Kondisi ini, lanjut Antony, membuat peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat menjadi lebih terbatas, sehingga mempengaruhi minat terhadap aset berisiko, termasuk kripto. Pergerakan Bitcoin saat ini berada di kisaran US$70.000, dengan area US$70.000 – US$72.000 menjadi level support penting yang dicermati investor.
Selama level ini mampu bertahan, pergerakan harga berpotensi tetap stabil dalam jangka pendek, didukung arus masuk dana institusional yang membantu menyerap tekanan jual. “Namun jika harga melewati level support ini, penyesuaian harga berpotensi berlanjut ke level yang lebih rendah,” ujarnya.
Dia menambahkan, pada kondisi pasar saat ini, sentimen pasar cenderung dipengaruhi oleh faktor makroekonomi. Namun bagi investor, fase koreksi dan konsolidasi seperti ini dapat dimanfaatkan untuk menata kembali strategi investasi secara lebih bijak dengan manajemen risiko yang tepat dan fokus jangka panjang.