Krisis Energi Global Mengintai, IEA Anjurkan WFH untuk Penghematan Bahan Bakar

Sabtu, 21 Maret 2026 – 20:46 WIB

Jakarta, VIVA – Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa dunia sedang menghadapi kemungkinan krisis energi besar. Ini disebabkan oleh gangguan pasokan minyak global yang terbesar dalam sejarah. Dalam situasi ini, IEA menekankan bahwa hanya mengatur pasokan minyak saja tidak cukup untuk mencegah kenaikan harga energi yang tajam.

IEA menyatakan, justru upaya untuk menekan permintaan lah yang menjadi solusi tercepat untuk mengurangi beban pada konsumen. Salah satu langkah yang disarankan adalah bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Tujuannya untuk mengurangi pemakaian bahan bakar, terutama dari sektor transportasi.

IEA juga mengimbau masyarakat untuk mengurangi perjalanan darat dan udara, lebih sering memakai transportasi umum, serta berbagi kendaraan (carpooling). Langkah-langkah ini dianggap efektif karena sektor transportasi darat menyumbang sekitar 45 persen dari total permintaan minyak global.

“Mengatasi permintaan adalah alat yang penting dan mendesak untuk meringankan tekanan pada konsumen, dengan membuat energi lebih terjangkau dan mendukung keamanan pasokan,” kata IEA, seperti dikutip dari CNBC Internasional pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Krisis energi ini dipicu oleh meningkatnya konflik di Timur Tengah, terutama perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang telah menyebabkan harga minyak melonjak. Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, harga minyak dunia tercatat naik lebih dari 40 persen dan mencapai level tertinggi sejak tahun 2022.

Gangguan pasokan terutama terjadi karena ditutupnya Selat Hormuz, jalur penting yang biasanya dilalui sekitar 20 persen minyak konsumsi global. Keadaan ini membuat pasar energi global tidak stabil dan mendorong naiknya harga produk turunan seperti solar dan bahan bakar pesawat. Hal ini langsung berdampak pada biaya transportasi dan harga barang.

MEMBACA  Mengapa Tyson Fury Peringkat Pertama Meski Memiliki Rekor 0-2?

Sebagai tanggapan, beberapa negara mulai mengeluarkan cadangan minyak strategis mereka. IEA bahkan telah menyetujui pelepasan 400 juta barel minyak untuk mengurangi dampak gangguan pasokan, meski waktu distribusinya ke pasar belum dirinci.

Namun, IEA berpendapat langkah pengurangan konsumsi tetaplah kunci utama. Selain WFH, kebijakan lain seperti membatasi kecepatan kendaraan, mengurangi pemakaian mobil pribadi, dan beralih ke sumber energi yang lebih efisien dianggap dapat membantu menekan permintaan bahan bakar.

Dengan demikian, terjadi pengalihan penggunaan gas minyak cair (LPG) dari sektor transportasi ke kebutuhan pokok sehari-hari, seperti untuk memasak. Langkah ini juga merupakan upaya menjaga harga energi agar tetap terjangkau karena ketergantungan pada LPG berkurang.

Di sisi lain, sejumlah negara juga mulai menerapkan kebijakan fiskal untuk melindungi konsumen dari kenaikan harga energi yang cepat. Spanyol dilaporkan berencana untuk memotong pajak bahan bakar.

Tinggalkan komentar