Sabtu, 21 Maret 2026 – 02:02 WIB
Yerusalem, VIVA – Larangan salat Idul Fitri di Masjid Al-Aqsa menarik perhatian dunia. Otoritas Israel dikabarkan tidak mengizinkan umat Muslim beribadah di tempat suci itu mendekati hari raya, dengan alasan kondisi keamanan yang sedang tegang.
Kebijakan ini dikaitkan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk konflik yang melibatkan Israel dan Iran. Dengan alasan menjaga stabilitas, akses ke kompleks Al-Aqsa dibatasi ketat, bahkan kegiatan berkumpul di sekitarnya juga dibatasi.
Keputusan ini memicu reaksi dari warga Palestina. Meski dilarang masuk area masjid, mereka tetap berusaha beribadah dengan berkumpul di sekitar Kota Tua Yerusalem. Pada Jumat, 20 Maret 2026, ada seruan agar umat Muslim tetap salat Idul Fitri sedekat mungkin dengan Masjid Al-Aqsa sebagai simbol kemenangan setelah Ramadan.
Namun, situasi di lapangan tidak kondusif. Aparat keamanan Israel dilaporkan mengambil tindakan tegas terhadap warga yang coba beribadah di luar area yang diizinkan. Penggunaan pentungan, granat kejut, sampai gas air mata disebut terjadi sebagai tanggapan atas aksi protes warga Palestina terhadap penutupan kawasan masjid selama bulan suci.
Kondisi di Yerusalem Timur berubah drastis. Biasanya daerah itu ramai warga jelang Lebaran, tahun ini justru sepi. Aktivitas masyarakat turun tajam, bahkan ada yang menggambarkan situasinya seperti kota mati.
Tidak hanya pengaruhi kegiatan ibadah, pembatasan ini juga pukul ekonomi lokal. Banyak pedagang Palestina tidak diizinkan buka toko mereka di kawasan Kota Tua. Hanya beberapa usaha penting seperti apotek dan penjual bahan pokok yang masih boleh beroperasi.
Sejumlah pedagang mengaku mengalami kerugian besar, terutama karena momen jelang Idul Fitri biasanya adalah periode penjualan tertinggi. Tapi, dengan adanya pembatasan, peluang itu hilang dan menambah beban ekonomi masyarakat setempat.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, warga Palestina tetap berusaha pertahankan tradisi dan hak beribadah mereka. Seruan untuk tetap laksanakan salat Idul Fitri di sekitar Kota Tua menjadi bentuk simbolik perlawanan sekaligus harapan agar kebebasan beribadah tetap terjaga.