Jumat, 20 Maret 2026 – 16:02 WIB
Presiden Senegal, Bassirou Diomaye Faye, telah memerintahkan stafnya untuk mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Ini terjadi setelah Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) mencabut gelar juara Piala Afrika 2025 dari Timnas Senegal dan memberikan gelar itu ke Maroko.
Keputusan CAF diumumkan setelah mereka mengabulkan banding dari Maroko terkait pertandingan final yang berlangsung di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, pada 18 Januari 2026.
Dalam pernyataan resminya, Presiden Faye menyampaikan rasa kecewa dan marah atas keputusan ini. Dia menganggap langkah CAF sebagai sebuah keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kompetisi.
“Presiden menegaskan bahwa Senegal mencatat dengan penyesalan dan kemarahan atas keputusan Dewan Banding CAF yang menghapus gelar Juara Afrika 2025 dari tim nasional kami,” bunyi rilis pemerintah Senegal.
“Menghadapi keputusan yang tak biasa ini, ia meminta Pemerintah, khususnya Menteri Olahraga, untuk segera mengatur dan bersama Federasi Sepak Bola Senegal mengajukan banding yang tepat ke Pengadilan Arbitrase Olahraga,” lanjut pernyataan itu.
Pencabutan gelar ini berawal dari protes yang diajukan Maroko tentang jalannya pertandingan final. Dalam laga itu, Senegal menang 1-0 walaupun sempat meninggalkan lapangan selama sekitar 17 menit sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit.
Saat itu, Senegal merasa dirugikan setelah gol Abdoulaye Seck dibatalkan dan Maroko malah mendapatkan tendangan penalti. Aksi protes ini menghentikan pertandingan lebih dari 15 menit sebelum akhirnya dilanjutkan kembali.
Setelah kembali ke lapangan, Senegal memastikan kemenangan melalui gol tunggal Pape Gueye. Namun, tindakan meninggalkan lapangan (walk out) itu kemudian dinilai melanggar aturan pertandingan.
Mengacu pada Pasal 82, tim yang meninggalkan lapangan tanpa izin wasit dapat dinyatakan kalah. Berdasarkan aturan ini, CAF mengabulkan banding Maroko, mencabut gelar Senegal, dan menetapkan Maroko sebagai juara dengan skor kemenangan 3-0.
Keputusan ini juga memastikan Maroko meraih gelar Piala Afrika untuk kedua kalinya sepanjang sejarah, mengakhiri penantian panjang selama 50 tahun.