Alasan Ilmiah Muhammadiyah Menetapkan Lebaran 20 Maret 2026

Jumat, 20 Maret 2026 – 08:10 WIB

VIVA – Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah memastikan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Kepastian ini bukanlah keputusan yang mendadak, tapi merupakan hasil perhitungan astronomi yang matang melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Penetapan ini memberikan kepastian lebih awal untuk masyarakat yang menunggu kapan Lebaran tiba. Muhammadiyah tidak memakai metode rukyat lokal, tetapi mengacu pada prinsip global, yaitu mencari titik pertama di Bumi yang memenuhi syarat untuk melihat hilal.

Tahun ini, titik krusial tersebut berada di wilayah Hail, Arab Saudi. Berdasarkan data dari Majelis Tarjih dan Tajdid, posisi hilal di sana telah memenuhi semua parameter yang disyaratkan dalam KHGT.

Peneliti sekaligus Anggota Tim Pengembang Software KHGT, Dr. Kasmui, menjelaskan bahwa hasil ini sudah diverifikasi lewat peta visibilitas global. Ia menyebut bahwa saat matahari terbenam di Hail, posisi bulan sudah sangat ideal untuk dinyatakan terlihat secara astronomis.

“Di koordinat wilayah Hail ini, saat matahari terbenam, parameter elongasi sudah mencapai 8° dengan ketinggian bulan juga di atas batas aman 5°,” ujar Kasmui dalam wawancara yang dipublikasikan Muhammadiyah Semarang Kota.

Penjelasan Ilmiah Muhammadiyah Lebaran 20 Maret 2026

Parameter-parameter itu menjadi kunci utama dalam sistem KHGT. Elongasi menggambarkan jarak sudut antara matahari dan bulan, sementara ketinggian bulan menunjukan posisinya dari cakrawala saat matahari terbenam. Jika kedua syarat ini terpenuhi, maka hilal dianggap valid secara ilmiah.

Temuan di Jazirah Arab itu memiliki dampak global. Dalam konsep KHGT, satu titik yang memenuhi kriteria visibilitas sudah cukup untuk menetapkan awal bulan Hijriah bagi seluruh dunia. Artinya, umat Islam di berbagai negara berpotensi merayakan Idulfitri pada waktu yang sama tanpa perbedaan tanggal.

MEMBACA  Kegemparan di Barcelona: Presiden Ungkap Alasan Lionel Messi Tak Kembali

Secara waktu, fase ijtimak atau konjungsi geosentrik terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 01.23.25 UTC. Momen ini menandai pertemuan posisi matahari dan bulan dalam satu garis bujur langit, yang menjadi awal terbentuknya bulan baru. Dengan selisih waktu yang cukup sampai matahari terbenam di wilayah barat, peluang untuk melihat hilal semakin kuat.

“Karena kriteria mutlak KHGT telah terpenuhi di Hail sebelum pergantian hari UTC, maka PKG 1 dinyatakan sah dan valid,” kata Kasmui menjelaskan.

Tinggalkan komentar