Anak-Anak Perempuan Saya Memasuki Dunia Kerja di Era AI: Kerja Keras Sekarang Tidak Cukup

Anak perempuan tertua saya mulai magang di Deloitte tahun ini. Dia mampu dan termotivasi. Tapi dia akan masuk ke lingkungan kerja yang sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu.

Saya mulai karir saya lebih dari beberapa tahun yang lalu. Dulu, sukses punya rumus sederhana: datang pertama, pulang terakhir, dan selalu minta pekerjaan tambahan. Usaha diukur dari jam kerja. Terlihat atasan diukur dari sering ketemu. Komitmen itu masih penting — saya tidak akan bilang kerja keras tidak penting. Tapi saya akan bilang bahwa kerja keras saja tidak cukup lagi.

Mereka perlu bekerja dengan cara berbeda — begitu juga semua orang.

Seperti apa bekerja dengan cara berbeda

Dari pengalaman saya sebagai CEO dan ayah, saya sangat kagum dengan kemampuan Generasi Z berkomunikasi digital. Mereka SMS. Mereka kirim pesan. Mereka kirim pesan suara. Itu sangat berguna untuk komunikasi sesama mereka. Tapi itu ada batasnya, bahkan di zaman serba digital ini. Membangun hubungan saling percaya lebih penting dari sebelumnya.

Tempat kerja berisi orang yang terbiasa dengan budaya email, budaya telepon, bahkan budaya memo. Setiap generasi terhubung dengan cara berbeda, dan setiap cara punya tempatnya. Anak-anak saya perlu menyesuaikan cara mereka dengan preferensi rekan kerjanya, bukan mengharapkan orang lain yang menyesuaikan.

Saya bilang langsung ke mereka: cari tau cara manajer kamu suka berkomunikasi — bahkan tanyakan saja — lalu gunakan cara itu. Pahami cara tim keuangan bekerja, cara tim lapangan bicara, cara para eksekutif ingin informasi disampaikan. Ini bukan tentang meninggalkan gayamu. Ini tentang memperluas jangkauan. Jadilah bunglon komunikasi.

Memperluas jangkauan itu juga berarti membangun kemampuan beradaptasi. Kefasihan digital Gen Z akan terasa ketinggalan zaman bagi generasi di belakang mereka — dan mereka tak perlu menunggu Gen Alpha masuk dunia kerja. Semua berubah lebih cepat dari itu. Adaptasi bukan strategi. Itu dasarnya.

MEMBACA  Xpeng akan meluncurkan merek mobil listrik yang lebih murah di tengah persaingan harga sengit di China.

Di mana AI berperan

AI telah menjadi alat paling praktis untuk adaptasi seperti ini — dan kebanyakan orang yang baru masuk dunia kerja belum memakainya dengan cara ini.

Saya lakukan ini dalam pekerjaan saya. Sebelum presentasi penting, saya masukkan materi presentasi ke LLM dan tanya bagaimana pesan saya akan diterima audiens berbeda — dewan direksi, bawahan langsung saya, pelanggan. AI tidak mengerjakan tugas saya, tapi AI menunjukkan sudut pandang yang mungkin saya lewatkan, membantu saya menyesuaikan komunikasi untuk dampak maksimal. Jika CEO perusahaan Fortune 500 pakai AI untuk menguji pesannya sebelum rapat dewan, seorang anak 22 tahun yang baru mulai kerja pertama juga harus melakukan hal yang sama.

Bagi yang baru masuk dunia kerja, ini titik awal yang praktis. Kamu masuk ke ruangan — virtual atau nyata — penuh orang yang berpikir berbeda darimu, berkomunikasi berbeda darimu, dan punya ekspektasi yang belum kamu ketahui. AI bisa membantumu memperkirakan bagaimana sebuah pesan akan diterima sebelum dikirim. AI bisa membantumu membangun kecerdasan emosional antar departemen dan kelompok umur — keterampilan yang dulu butuh tahunan untuk dikembangkan lewat pengalaman, coba-coba dan salah.

Alatnya baru. Tujuannya tidak. Kamu masih berusaha terhubung dengan orang — AI hanya memberimu cara untuk berlatih sebelum situasi sebenarnya.

Tidak ada pengganti untuk “hadir”

AI bisa bantu jembatani kesenjangan komunikasi, tapi itu cuma alat. Ada orang di kedua sisi setiap interaksi, dan tidak ada pengganti untuk hubungan manusia di kerja.

“Hadir” terlihat berbeda di banyak perusahaan sekarang, dengan kerja di kantor, remote, dan hybrid yang memisahkan rekan kerja secara fisik. Tapi elemen digital adalah fasilitator — bukan pengganti. Hadir berarti lebih dari sekadar masuk meeting; itu tentang menyalakan kamera, terlibat aktif, dan mencari cara untuk menambah nilai. Kehadiran sejati, baik virtual atau langsung, butuh usaha sadar untuk terhubung, membangun kepercayaan, dan berpartisipasi penuh.

MEMBACA  Walmart Black Friday 2025Brosur dan Penawaran Terbaik untuk Dibeli Sekarang

Anak-anak saya akan masuk dunia kerja di mana membangun hubungan antar tim butuh usaha disengaja. Tidak akan ada yang tidak sengaja ketemu mereka di lorong dan menawarkan nasihat karir. Mereka harus mencarinya dan mengembangkan lingkaran penasihat terpercaya untuk membantu mereka di setiap tahap karir.

Nasihat yang selalu saya ingat

Di awal karir saya, seseorang bilang: cari cara untuk mengerjakan lebih dari deskripsi pekerjaanmu. Jangan tunggu disuruh. Temukan celah dan isi.

Nasihat itu tidak berubah. Etos kerja masih dasarnya. Tapi mengungguli rekan kerja sekarang artinya berbeda dengan tahun 1995. Artinya beradaptasi. Artinya berkomunikasi dengan cara yang sesuai untuk orang yang berpikir berbeda darimu. Artinya menggunakan alat yang ada untuk mempertajam penilaianmu, bukan menggantikannya.

Anak-anak saya cukup pintar untuk memahami sebagian besar ini sendiri. Tapi aturan permainan sudah berubah cukup cepat sehingga bahkan orang dengan karir 30 tahun masih mengejar. Keunggulan akan jatuh ke siapa yang beradaptasi duluan.

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel komentar Fortune.com adalah murni pandangan penulisnya dan tidak selalu mencerminkan pendapat dan keyakinan Fortune.

Tinggalkan komentar