loading…
AS Siap Gunakan Temuan Thomas Edison. Foto/ Viet
JAKARTA – Jenis baterai yang dianggap kuno selama lebih dari seratus tahun sekarang kembali menarik minat ilmuwan dan pengusaha, seiring dunia memasuki transisi energi berskala besar.
**Dari Penemuan Edison Hingga Teknologi yang Terlupakan**
Pada tahun 1901, Thomas Edison memperkenalkan baterai nikel-besi (Ni-Fe) dengan harapan bisa menggantikan baterai timbal-asam yang umum saat itu. Baterai ini punya struktur yang cukup sederhana, dengan elektroda positif dari nikel oksida, elektroda negatif dari besi, dan larutan elektrolit alkali.
Sejak awal, baterai Ni-Fe sudah menunjukkan kelebihan yang jelas dalam hal ketahanan yang sangat baik dibanding banyak teknologi penyimpanan energi lain. Dalam kondisi operasi yang tepat, baterai nikel-besi dapat bekerja andal selama beberapa dekade, bahkan sampai 30-50 tahun, tanpa penurunan performa yang signifikan. Kemampuannya untuk bertahan melalui banyak siklus isi-ulang dalam tanpa rusak menjadikannya salah satu jenis baterai paling awet yang pernah dibuat.
Namun, keterbatasan performanya lah yang menyebabkan temuan ini akhirnya ditinggalkan. Baterai Ni-Fe punya kecepatan pengisian yang lambat dan efisiensi energi yang lebih rendah dibanding baterai timbal-asam, belum lagi ukurannya yang besar dan biaya awal yang relatif tinggi untuk konteks awal abad ke-20.
Seiring munculnya teknologi baru, terutama lithium-ion, dengan kepadatan energi tinggi dan kemampuan isi cepat, baterai nikel-besi pelan-pelan menghilang dari arus utama teknologi penyimpanan. Selama lebih dari 120 tahun, baterai ini hampir hanya dipakai untuk aplikasi yang sangat terbatas, seperti sistem daya mandiri atau lingkungan yang butuh daya tahan tinggi.