Ali Larijani Tersingkir, Siapa yang Sebenarnya Memegang Kendali di Iran?

Rabu, 18 Maret 2026 – 19:00 WIB

IranAli Larijani sempat menjadi pemimpin de facto rezim Iran setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas karena serangan rudal Israel dari luar angkasa pada 28 Februari lalu.

Namun, nahas, pada Selasa kemarin Larijani juga ikut tewas dalam serangan terarah yang menewaskan pimpinan milisi Basij, sayap paramiliter Garda Revolusi Iran (IRGC).

Kematian Larijani bukan satu-satunya. Ia cuma salah satu dari beberapa tokoh penting Iran yang tewas sejak perang dimulai. Di antaranya ada kepala Dewan Pertahanan Nasional, komandan IRGC, menteri pertahanan, sampai kepala intelijen.

Setelah wafatnya Ali Khamenei, Majelis Ahli Iran menunjuk putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Tapi sejak serangan yang menewaskan ayah, istri, dan anaknya, Mojtaba belum pernah terlihat di depan publik. Bahkan Presiden Trump mengatakan dia tidak yakin apakah Mojtaba masih hidup atau sudah meninggal.

Dengan situasi yang semakin rumit ini, muncul pertanyaan besar: siapa sebenarnya yang sekarang mengendalikan Iran? Terkait hal itu, para pengamat Republik Islam menilai bahwa kendali Iran saat ini ada di tangan para komandan IRGC, yang kemungkinan akan kembali menunjuk penerus baru dengan sikap yang lebih keras dan tegas.

Seperti halnya pengganti Khamenei yang masih dari keluarganya, pengganti Larijani kemungkinan besar juga akan berasal dari keluarga Larijani, menurut para ahli kepada The Post.

Adik Ali Larijani, Sadiq Larijani, disebut-sebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk menggantikan posisi kakaknya dan memimpin Iran sementara Mojtaba masih menghilang dari publik, kata Yigal Carmon, presiden Middle East Media Research Institute di Israel.

“Ia bisa menjadi kandidat karena IRGC menginginkan sosok garis keras. Mereka butuh seseorang yang sejalan, bergerak bersama, dan mau bekerja sama dengan mereka. Ia bukan pesaing bagi mereka. Ia akan bekerja bersama mereka,” kata Carmon dikutip dari laman NY Post, Rabu 18 Maret 2026.

MEMBACA  Akhir yang Mengerikan \'Kaki Panjang\', dijelaskan | Mashable

Analis Iran di Foundation for Defense of Democracies, Janatan Sayeh, juga menilai Sadiq sebagai kandidat yang paling mungkin, mengingat posisinya sebagai ketua Dewan Kebijaksanaan (Expediency Discernment Council) di Teheran—lembaga yang memberi nasihat kepada pemimpin tertinggi.

Halaman Selanjutnya

Statusnya sebagai seorang ayatollah, serta latar belakang ayahnya yang pernah berselisih dengan Shah Mohammad Reza Pahlavi, juga memperkuat posisinya sebagai bagian dari rezim Islam.

Tinggalkan komentar