Bangga dengan Rasa, Kebiasaan Minum Air Indonesia Berevolusi

Selasa, 17 Maret 2026 – 08:38 WIB

Jakarta, VIVA – Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap isu lingkungan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan ini juga mulai terlihat dari kebiasaan sehari-hari, termasuk dalam memilih dan mengonsumsi air minum. Kalau dulu konsumen lebih fokus pada faktor praktis dan harga, sekarang makin banyak yang mulai mempertimbangkan dampak lingkungan dari produk yang mereka pakai, termasuk air minum dalam kemasan (AMDK).

Tren ini terlihat dari makin tingginya perhatian konsumen terhadap aspek keberlanjutan dalam memilih produk. Komitmen perusahaan terhadap lingkungan sekarang tidak cuma dilihat sebagai nilai tambah, tapi juga jadi faktor penting yang memengaruhi reputasi dan kepercayaan publik terhadap sebuah merek. Scroll lanjut yuk!

Laporan World Visualized berjudul Indonesia’s Bottled Water Brands Face a Moment of Truth in 2025 mencatat bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan makin jadi indikator utama dalam penilaian konsumen terhadap merek AMDK. Konsumen sekarang nggak cuma lihat kualitas produk, tapi juga sejauh mana perusahaan punya komitmen nyata terhadap praktik yang lebih berkelanjutan.

Perubahan pola pikir ini mendorong beberapa perusahaan untuk menghadirkan inovasi kemasan yang lebih ramah lingkungan. Selain galon guna ulang, berbagai inovasi juga dikembangkan seperti pemanfaatan plastik daur ulang dan desain kemasan yang lebih ringan untuk kurangi pemakaian material plastik.

Langkah-langkah ini semakin penting di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap masalah sampah plastik. Volume sampah di berbagai TPA terus bertambah tiap tahun, sehingga upaya pengurangan sampah jadi salah satu fokus penting dalam pengelolaan lingkungan.

Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat timbulan sampah nasional mencapai sekitar 36 juta ton pada 2024 dari 342 kabupaten/kota. Dari jumlah itu, sekitar 19,59 persen adalah sampah plastik.

MEMBACA  Cara membuat penggunaan ponsel dengan satu tangan menjadi lebih mudah

Sementara itu pada 2025, data sementara dari 249 kabupaten/kota menunjukkan timbulan sampah mencapai kurang lebih 25 juta ton, dengan 20,45 persen di antaranya berupa sampah plastik. Angka ini diperkirakan masih akan naik seiring penghitungan yang masih berlangsung.

Situasi ini membuat penggunaan kemasan yang lebih berkelanjutan semakin penting, termasuk kemasan yang bisa dipakai berulang kali. Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia, Bisuk Abraham Sisungkunon, menilai penggunaan galon guna ulang punya manfaat ekologis yang lebih signifikan dibandingkan kemasan sekali pakai.

Tinggalkan komentar