Jakarta (ANTARA) – Anggota DPR RI I Nyoman Parta menyebut serangan asam terhadap aktivis HAM Andrie Yunus sebagai alarm serius bagi demokrasi dan perlindungan kebebasan sipil di Indonesia.
Parta mengatakan kejadian ini tidak boleh dilihat sebagai kejahatan biasa, tapi sebagai peringatan terkait keamanan para pembela HAM dan integritas ruang demokrasi Indonesia.
“Serangan terhadap aktivis HAM adalah serangan terhadap negara hukum. Mereka memainkan peran kunci dalam memastikan akuntabilitas pemerintah dan melindungi hak-hak warga,” ujarnya dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Sebagai anggota parlemen yang mengawasi penegakan hukum, ia menekankan bahwa aparat harus menangani kasus ini sebagai prioritas utama. “Negara harus pastikan para pembela bisa bekerja bebas dari ancaman kekerasan,” kata Parta.
Ia mendesak penyelidikan dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel, serta mampu mengungkap motif dan dalang potensial di balik serangan pada Kamis malam (12 Maret) itu.
Pengalaman masa lalu menunjukkan kekerasan terhadap aktivis seringkali menimbulkan kecemasan publik jika proses penegakan hukum tidak terbuka dan tuntas, catatnya.
“Kasus ini harus diselidiki sampai ke akarnya. Tidak cukup hanya menangkap pelaku lapangan. Para aktor tersembunyi juga harus diungkap demi kepastian dan keadilan hukum,” tegas Parta.
Ia mengingatkan sejarah kelam Indonesia terkait kekerasan terhadap aktivis dan penegak hukum, termasuk pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib, aktivis buruh Marsinah, dan serangan asam terhadap mantan penyidik KPK Novel Baswedan.
“Sejarah menunjukkan kekerasan terhadap mereka yang memperjuangkan keadilan sangat berpengaruh pada kepercayaan publik. Kita harus cegah praktik seperti ini terulang kembali,” ujarnya.
Parta memperingatkan bahwa kegagalan menangani kasus seperti ini dengan serius dapat mengintimidasi masyarakat sipil, membatasi kritik publik, dan mengurangi kepercayaan pada institusi penegak hukum.
Ia juga mengatakan insiden seperti ini bisa mempengaruhi reputasi Indonesia sebagai negara demokrasi yang menghormati kebebasan sipil.
“Indonesia adalah demokrasi besar di kawasan. Melindungi para pembela HAM harus menjadi komitmen nyata negara,” tegasnya.
Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS, mengalami luka bakar di sekitar 24 persen tubuhnya, termasuk mata, setelah diserang dengan cairan asam oleh orang tak dikenal.
Serangan terjadi tak lama setelah Yunus selesai merekam podcast di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang membahas militerisme dan judicial review undang-undang militer.
Laporan awal menyebutkan sekitar pukul 23.37 waktu setempat, Yunus sedang mengendarai sepeda motor di Jalan Salemba I, Jakarta Pusat, ketika dua pelaku di motor lain mendekat dan menyemprotkan asam kepadanya sebelum kabur.
Ia segera dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan darurat, dengan dokter fokus menangani luka di mata akibat cairan korosif tersebut.
Berita terkait: Indonesia’s KontraS urges probe after activist hurt in acid attack
Penerjemah: Fath PM, Rahmad Nasution
Editor: M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2026