loading…
Ramadan bukan bulan yang sepi bagi trader yang displin, malah sering jadi bulan yang disalahmengerti. Ramadan emang ubah pola kegiatan sehari-hari, tapi nggak ganggu aktifitas pasar. Foto/Dok. SindoNews
JAKARTA – Setiap tahun, mendekati Ramadan, para trader retail biasanya beranggapan pasar bakal sepi dan peluang buat trading yang untung akan kecil. Asumsi ini kelihatannya masuk akal banget. Jumlah trader di negara mayoritas Muslim mungkin berkurang saat Ramadan, dan kegiatan ekonomi keliatan melambat.
Tapi, ini nggak sama dengan yang terjadi di pasar keuangan. Ramadan itu bukan bulan sepi buat trader yang disiplin, tapi bulan yang sering salah dipahami. Baca juga: Pasar Saham Gonjang-ganjing, Hashim Sebut Prabowo Marah Besar
Ramadan memang pengaruhin pola harian tapi nggak ganggu kegiatan pasar. Lantai bursa, investasi dari lembaga, dan pengaruh kondisi makroekonomi tetep jalan, apalagi karena pusat keuangan utama kayak London, New York, dan Tokyo nggak terpengaruh sama Ramadan. Pola ikut serta di pasar cuma akan berubah di beberapa bagian dunia, terutama pas siang hari.
Aset yang berhubungan dengan ekonomi Timur Tengah atau pasar saham di sana mungkin aja ngalamin penurunan kegiatan di waktu-waktu tertentu dalam sehari. Tapi, aset utama kayak pasangan mata uang (forex), emas, dan indeks global tetep aja dipengaruhi sama peristiwa makroekonomi, pernyataan bank sentral, dan perkembangan geopolitik.
Beberapa tahun belakangan ini, Ramadan sering barengan sama naiknya kekhawatiran soal inflasi, perubahan suku bunga, dan naik-turunnya harga komoditas. Aspek-aspek ini dampaknya jauh lebih besar ke kegiatan pasar dibanding pola ikut serta yang berubah cuma sementara.
Yang penting diperhatikan di dunia nyata itu bukan soal pasar “sepi” atau nggak, tapi kapan likuiditasnya lagi sedikit dan kapan balik lagi. Selama Ramadan, volume perdagangan di beberapa pasar regional mungkin lebih rendah sebelum maghrib dan lebih tinggi setelahnya, pas trader-trader balik kerja habis buka puasa.