Jakarta (ANTARA) – Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimisme bahwa penyelidikan dagang oleh United States Trade Representative (USTR) tidak akan mempengaruhi prospek perdagangan Indonesia.
Dia mengatakan penyelidikan seperti itu hal yang biasa dalam hubungan perdagangan internasional dan karenanya tidak perlu dikhawatirkan.
“Menurut saya tidak apa-apa (penyelidikan dagang). Investigasi itu hal biasa,” ujarnya kepada wartawan saat ditemui di kantornya pada Jumat.
Menurutnya, Indonesia masih memegang keunggulan komparatif dalam perdagangan dengan Amerika Serikat, terutama karena harga barang Indonesia lebih kompetitif dibanding produk Amerika.
Situasi ini juga didukung oleh biaya tenaga kerja yang lebih rendah, yang memberi Indonesia keunggulan kompetitif unik, tambahnya. Faktor-faktor ini telah berkontribusi pada Indonesia mempertahankan surplus perdagangan dengan AS.
Mengenai potensi kenaikan tarif, yang sering dikaitkan dengan surplus perdagangan suatu negara dengan AS, Purbaya menyatakan bahwa Indonesia tidak akan terdampak signifikan jika kenaikan tarif diterapkan secara sama ke negara lain.
Namun, situasi akan berbeda jika tarif yang dikenakan pada Indonesia lebih tinggi daripada yang dikenakan pada negara-negara sejawat. Selisih tarif yang signifikan, misalnya sekitar 10 persen, berpotensi memberi tekanan pada ekspor Indonesia.
Lebih lanjut, menteri juga memastikan kesiapannya untuk menerapkan langkah-langkah efisiensi jika diperlukan.
“Kami akan mengejar langkah efisiensi lain jika itu menjadi perlu. Namun, prospek kedepan seharusnya tidak memerlukan banyak hal itu, bahkan dengan penyelidikan USTR,” katanya.
Pemerintah AS pada Rabu (11 Maret) meluncurkan penyelidikan dagang atas dugaan praktik tidak adil terhadap Indonesia, Jepang, dan puluhan mitra dagang lainnya, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif impor tinggi.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan penyelidikan ini bertujuan untuk mengungkap “serangkaian praktik perdagangan tidak adil terkait kelebihan kapasitas dan produksi manufaktur” sebagai bagian dari upaya berpotensi memberlakukan tarif impor baru.
Berita terkait: Indonesia tetap untung dari minyak mentah AS meski harga minyak naik
Berita terkait: Indonesia mulai impor minyak mentah AS di tengah ketegangan Timur Tengah
Penerjemah: Imamatul Silfia, Resinta Sulistiyandari
Editor: M Razi Rahman
Hak Cipta © ANTARA 2026