Jumat, 13 Maret 2026 – 09:13 WIB
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengeluarkan ancaman terselubung untuk membunuh pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. Hal ini di sampaikan pada Kamis, 12 Maret 2026. Meski begitu, Netanyahu mengakui bahwa serangan udara gabungan Israel dan AS mungkin tidak akan langsung menjatuhkan pemerintahan di Teheran.
Dalam konferensi pers pertamanya sejak perang dimulai 28 Februari lalu, Netanyahu menyatakan Iran sudah “tidak lagi sama” setelah hampir dua minggu dibombardir. Ia klaim Teheran telah menerima pukulan berat terhadap Korps Garda Revolusi dan pasukan Basij.
Netanyahu juga bersumpah akan terus menyerang Hizbullah di Lebanon. Kelompok tersebut sebelumnya menembakkan roket sebagai balasan atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei – ayah dari Mojtaba – yang dibunuh oleh Israel di awal perang.
Dalam konferensi pers via video, Netanyahu ditanya tentang kemungkinan tindakan Israel terhadap Ayatollah Mojtaba Khamenei dan pemimpin Hizbullah, Naim Qassem. Ia menjawab, “Saya tidak akan memberikan polis asuransi jiwa untuk pemimpin organisasi teroris manapun… Saya tidak berniat memberi rincian pasti tentang rencana kami di sini.”
Netanyahu juga mencibir Mojtaba Khamenei yang dianggapnya hanya “boneka” dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). “Kami telah bunuh diktator sebelumnya. Sekarang, diktator baru yang cuma boneka IRGC ini bahkan tidak berani muncul di publik,” ucapnya.
Saat Netanyahu berbicara, sirene peringatan serangan rudal dari Iran terdengar di sebagian besar wilayah tengah Israel. Tujuan serangan Israel disebutkan untuk menghilangkan ancaman eksistensial dari program nuklir dan rudal balistik Iran.
Ketika ditanya apakah dukungan Israel kepada oposisi Iran bisa gagal menggulingkan rezim, Netanyahu mengatakan bahwa bahkan jika pemerintah tak jatuh, mereka akan tetap lemah. “Kami menciptakan kondisi optimal untuk menggulingkan rezim. Tapi saya tidak bisa pastikan rakyat Iran akan melakukannya – karena rezim biasanya digulingkan dari dalam,” katanya.
“Tapi kami pasti bisa bantu dan kami sedang membantu,” pungkas Netanyahu.