Hanya dalam hitungan jam setelah serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, aset-aset AS di wilayah Kurdistan Irak telah mengalami serangan balasan dari kelompok-kelompok yang didukung Tehran, yang menyeret negara tersebut ke dalam konflik yang sejak itu meluas di seluruh Timur Tengah dan sekitarnya.
Sejak saat itu, aset AS yang berlokasi di Irak telah berulang kali diserang oleh kelompok pro-Iran dan Korps Garda Revolusioner (IGRC) Iran yang kuat. AS juga telah melancarkan serangan terhadap kelompok-kelompok Irak ini.
Artikel Rekomendasi
Dalam konferensi pers di ibu kota Baghdad pada Senin, Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein menyatakan, “Irak telah menjadi salah satu negara yang terdampak langsung oleh konflik yang berlangsung.” Negara tersebut, kata Hussein, menghadapi serangan dari “kedua belah pihak yang berkonflik”.
Iran juga telah melakukan serangan hampir setiap hari terhadap aset AS di negara-negara Teluk yang kaya energi, menyebabkan lonjakan harga minyak dan mengancam perekonomian global.
Dalam penjelasan ini, kami menguraikan apa yang terjadi di Irak dan alasannya.
Apa yang Sedang Terjadi di Irak?
Pada Rabu, sebuah drone bunuh diri dicegat di dekat Konsulat AS di Erbil, dan ledakan keras terdengar di area tersebut, menurut beberapa kantor berita yang mengutip sumber keamanan dan diplomatik yang tidak disebutkan namanya.
Pada hari yang sama, serangan drone di wilayah Kurdistan Irak yang semi-otonom menewaskan seorang anggota kelompok oposisi Kurdi Iran, Partai Komala. Partai tersebut menyalahkan Iran atas serangan itu, yang belum dikomentari oleh Iran.
Sebuah drone menghantam fasilitas diplomatik kunci AS di Irak pada Selasa, diduga sebagai pembalasan oleh kelompok bersenjata pro-Tehran atas perang AS-Israel terhadap Iran, menurut laporan The Washington Post yang mengutip seorang pejabat keamanan tidak dikenal dan peringatan internal Departemen Luar Negeri AS.
Serangan itu mengenai pusat dukungan diplomatik, sebuah hub logistik untuk diplomat AS dekat bandara Baghdad dan pangkalan militer Irak, lapor Post. Tidak jelas dari laporan tersebut apakah ada korban luka.
Laporan itu menambahkan bahwa enam drone diluncurkan ke arah kompleks di Baghdad, satu di antaranya mengenai fasilitas AS sementara lima lainnya ditembak jatuh. Pejabat keamanan yang diwawancarai dengan syarat anonim untuk membahas situasi keamanan sensitif itu mengatakan tidak mengetahui adanya korban jiwa.
Serangan tersebut kemungkinan dilakukan oleh Islamic Resistance in Iraq, sebuah kelompok payung dari faksi bersenjata yang didukung Iran, menurut laporan Post yang mengutip pejabat keamanan tersebut.
Pada Selasa, Korps Garda Revolusioner Iran (IGRC) menyatakan mereka menghantam pangkalan AS di wilayah Kurdistan Irak yang semi-otonom. “Markas besar tentara AS yang invasif di Pangkalan Udara Al-Harir di wilayah Kurdistan ditargetkan dengan lima rudal,” bunyi pernyataan mereka di saluran Telegram.
Lebih awal di hari yang sama, kelompok Kataib Imam Ali yang didukung Iran, berafiliasi dengan Popular Mobilisation Forces (PMF), menyatakan empat anggotanya tewas dan 12 luka-luka dalam serangan udara di Irak utara yang mereka tuduh dilakukan oleh AS.
Kelompok itu mengklaim pejuangnya tewas dalam “agresi Amerika” terhadap posisi mereka di distrik Dibis, provinsi Kirkuk.
Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani pada Selasa mengatakan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahwa negaranya tidak boleh digunakan sebagai pangkalan peluncuran serangan dalam perang Timur Tengah, menurut pernyataan pemerintah Irak.
Namun Irak, yang lama menjadi medan perang proksi antara AS dan Iran, telah terseret ke dalam konflik sejak awal, dengan serangan-serangan yang diatribusikan kepada AS, kelompok-kelompok didukung Iran, dan IRGC.
Dalam 12 hari terakhir, serangan drone dan roket telah menghantam Bandara Internasional Baghdad, yang menampung pangkalan militer dan fasilitas diplomatik AS, serta ladang dan fasilitas minyak. Erbil, ibu kota wilayah Kurdistan, juga telah mengalami beberapa kali serangan.
Iran juga telah menyerang kelompok Kurdi Iran yang berbasis di wilayah Kurdistan Irak, setelah laporan bahwa Washington berencana mempersenjatai mereka untuk melawan Tehran. Pekan lalu, pemimpin kelompok nasionalis Kurdi Iran yang berbasis di wilayah Kurdi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa “sangat mungkin” orang-orang Kurdi Iran akan melakukan operasi darat lintas batas ke Iran.
Akan tetapi, Babasheikh Hosseini, sekretaris jenderal Organisasi Khabat Kurdistan Iran, mengatakan pada Jumat bahwa tidak ada operasi “pada saat ini”, namun AS telah melakukan kontak dengan kelompok tersebut dan mereka sedang mempertimbangkan sebuah kampanye.
Pada malam tanggal 4 Maret, media lokal melaporkan bahwa pasukan Irak menembak jatuh sebuah drone yang berusaha menyerang fasilitas militer AS, Pangkalan Udara Victoria, dekat Bandara Internasional Baghdad.
Aser Militer AS Apa Saja yang Ditempatkan di Irak?
AS mempertahankan kehadiran di Pangkalan Udara Ain al-Asad di provinsi Anbar barat, mendukung pasukan keamanan Irak dan berkontribusi pada misi NATO, menurut Gedung Putih. Serangan rudal Iran menyasar pangkalan tersebut pada 2020 sebagai balasan atas pembunuhan Jenderal Iran Qasem Soleimani oleh AS.
Pangkalan Udara Erbil di wilayah Kurdistan berfungsi sebagai hub bagi pasukan AS dan koalisi untuk melakukan latihan tempur dan manuver. Pangkalan itu mendukung upaya militer AS dengan menyediakan lokasi aman untuk pelatihan, berbagi intelijen, dan koordinasi logistik di Irak utara, menurut laporan kongres.
Per awal tahun 2026, sekitar 2.500 tentara AS berada di Irak.
Namun, sejak Amerika Serikat menarik pasukannya dari pangkalan-pangkalan di Timur Tengah, tidak jelas berapa banyak prajurit yang masih tersisa di negara tersebut.
AS tetap mempertahankan sejumlah terbatas fasilitas militer di seluruh Irak dan Kawasan Kurdistan, jauh lebih sedikit dibandingkan pada masa pendudukan, namun jumlah dan skala pastinya tidak diumumkan secara publik.
Di antaranya termasuk Pangkalan Victoria atau Camp Victoria, yang terletak dekat Bandara Internasional Baghdad, serta Pangkalan Udara Harir, di timur laut Erbil.
## Mengapa Irak Diserang dari Segala Penjuru?
“Kondisi sulit Irak berakar pada terfragmentasinya negara dan kebijakan luar negerinya,” jelas Renad Mansour, Peneliti Senior dan Direktor Inisiatif Irak di lembaga pemikir Chatham House yang berbasis di Inggris, kepada Al Jazeera.
“Berbagai bagian dari lanskap politik dan keamanan Irak teraliansi dengan kekuatan-kekuatan eksternal yang bersaing: Beberapa faksi menjaga hubungan erat dengan Iran, sementara yang lain lebih dekat dengan AS.”
Mansour menerangkan bahwa karena fragmentasi ini, tidak ada satu kebijakan luar negeri yang koheren dan tunggal yang memandu negara.
“Meskipun Baghdad sebelumnya telah memprotes pelanggaran kedaulatannya oleh Washington maupun Tehran, kapasitasnya untuk menegakkan keberatan tersebut terbatas.”
Hal ini, menurut Mansour, disebabkan oleh pengaruh jaringan informal dan milisi di dalam negeri yang memainkan peran besar dalam pengambilan keputusan dan keamanan.
Iran memperdalam dukungannya terhadap partai-partai dan kelompok bersenjata Islam Syiah setelah tumbangnya Saddam Hussein dalam invasi pimpinan AS tahun 2003.
Kelompok bersenjata Syiah, yang merupakan bagian dari PMF atau Hashd al-Shaabi, memainkan peran utama dalam mengalahkan ISIL (ISIS) di Irak antara 2014 dan 2017. Kelompok ISIL, yang mengandalkan dukungan minoritas Sunni, muncul setelah bertahun-tahun kekacauan dan politik sektarian.
Ribuan anggota kelompok bersenjata pro-Iran telah terserap ke dalam lembaga keamanan negara. Kelompok seperti Kataib Hezbollah dan Asaib Ahl al-Haq, yang merupakan bagian dari PMF, sejalan dengan kepentingan geopolitik Tehran.
Selain itu, para ahli menyatakan bahwa Iran memandang Irak sebagai tempat di mana mereka dapat menyerang kepentingan AS untuk membuat Washington membayar harga lebih mahal atas kebijakannya.
“Kelompok bersenjata pro-Iran di bawah bendera ‘Resistansi Islam di Irak’ telah menarget aset militer AS melalui serangan asimetris,” kata Burcu Ozcelik, Peneliti Senior untuk Keamanan Timur Tengah di lembaga pemikir Royal United Services Institute (RUSI) Inggris, kepada Al Jazeera.
Ozcelik menjelaskan bahwa bagi Tehran, hal ini sekaligus menekan kepentingan AS dan merusak reputasi stabilitas Kurdistan Irak dengan menarget fasilitas energi dan situs-situs kunci lainnya.
“Kurdistan adalah wilayah perbatasan sensitif bagi Iran bagaimanapun juga, mengingat kedekatannya dengan Iran dan keberadaan kelompok oposisi Kurdi Iran di sana yang dianggap bermusuhan oleh Tehran.”
Ozcelik mengatakan bahwa meskipun negara Timur Tengah lain, seperti Lebanon dan Yordania, juga terseret ke dalam konflik, Irak berbeda karena pengaruh Iran di sana jauh lebih dalam.
“Kelompok bersenjata pro-Iran tidak sekadar hadir; mereka sudah mengakar dan, sebagian, terliput dalam arsitektur keamanan negara, bahkan sementara Irak juga menjadi tuan rumah bagi kepentingan-kepentingan kunci AS,” ujar Ozcelik.
“Itu membuat Irak jauh lebih terekspos daripada kebanyakan, dan sangat mungkin tetap berada dalam baku tembak lama setelah [Presiden AS Donald Trump] menyatakan perang telah berakhir.”