AI Salah Satu Hal yang Paling Tidak Disukai di Amerika, Menurut Jajak Pendapat NBC Terbaru

Kecerdasan buatan dengan cepat telah tertanam di segala hal, mulai dari telepon genggam, tugas sekolah, hingga rencana militer. Hal ini berarti hampir setiap orang kemungkinan memiliki pendapat tersendiri mengenai teknologi ini.

Sebuah survei nasional terbaru yang dilakukan untuk NBC News menyoroti kesenjangan yang mencolok antara meluasnya alat-alat AI dengan pandangan warga Amerika terhadapnya. Jajak pendapat yang berlangsung dari 27 Februari hingga 3 Maret tersebut menanyakan kepada 1.000 pemilih terdaftar mengenai pandangan mereka tentang berbagai topik, mulai dari keamanan perbatasan hingga paus yang baru.

Hanya 26% pemilih yang menyatakan memandang AI secara positif, 46% memandangnya negatif, dan 28% merasa tidak pasti atau tidak memiliki pendapat. Hal ini membuat nilai kepopuleran bersih AI menjadi -20. Dalam studi tersebut, AI dinilai kurang populer dibandingkan Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE), Presiden Donald Trump, Mantan Wakil Presiden Kamala Harris, Partai Republik, dan pembawa acara *The Late Show* Stephen Colbert. (Paus Leo XIV sejauh ini merupakan figur paling populer yang ditanyakan kepada responden.)

Di antara berbagai peringkat tersebut, AI merupakan salah satu topik yang paling tidak populer dalam survei—hanya sedikit lebih positif dibandingkan Iran dan Partai Demokrat.

Kesenjangan yang Melebar antara AI dan Opini Publik

Terlihat kesenjangan yang nyata antara dorongan industri untuk adopsi AI dan perasaan warga Amerika terhadapnya.

Perusahaan-perusahaan teknologi saat ini menginvestasikan jutaan dolar untuk mengembangkan alat AI generatif dan AI fisik. Baru dalam seminggu terakhir, OpenAI merilis model GPT 5.4 terbarunya dan perusahaan-perusahaan AI melakukan langkah untuk bekerja sama dengan Departemen Pertahanan AS. Di saat yang sama, masyarakat Amerika justru semakin waspada terhadap teknologi ini.

MEMBACA  Ibu Orca Terkenal Terlihat Membawa Anak Mati untuk Kali Kedua

Ketidaksesuaian antara adopsi dan sentimen publik ini tampaknya didorong oleh kekhawatiran akan dampak luas AI, seperti penggantian pekerjaan, masalah privasi, penyebaran misinformasi, dan pelemahan karya buatan manusia.

Bagi perusahaan dan pembuat kebijakan yang sepenuhnya berkecimpung di bidang AI, tantangan terbesar akan lebih terletak pada upaya meyakinkan publik bahwa teknologi ini dapat dipercaya, dan bukannya pada pengembangan rangkaian model chatbot atau perangkat AI inovatif berikutnya.

Tinggalkan komentar