Harga Minyak Global Terjun 10% Usai Sentuh US$100, Ancaman Trump ke Iran Picu Pelemahan

Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia jatuh tajam lebih dari 10 persen di awal perdagangan Asia pada Selasa, 10 Maret 2026. Koreksi ini terjadi setelah pernyataan keras Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang meminta Iran untuk tidak menutup Selat Hormuz.

Dikutip dari CNBC Internasional, harga minyak mentah Brent turun 10 persen ke level US$89,03 per barel. Sementara minyak mentah AS turun lebih dari 9 persen ke level US$86,05 per barel.

Penurunan ini terjadi setelah harga minyak sempat melonjak melewati US$100 pada perdagangan Senin lalu. Bahkan, harga minyak dunia dilaporkan hampir menyentuh level US$120.

Lonjakan harga sebelumnya dipicu kekhawatiran pasar bahwa perang antara AS dan Israel melawan Iran akan mengganggu pasokan energi global. Sikap Iran yang mengancam akan menutup Selat Hormuz juga menambah kekhawatiran.

Namun, sentimen pasar berubah setelah Trump memberikan sinyal akan mengakhiri konflik di Timur Tengah. Ia juga memperingatkan Iran agar tidak mengganggu jalur pengiriman minyak yang vital.

“Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh AS dua puluh kali lebih keras,” tulis Trump di media sosial.

Seorang analis energi, Alberto Bellorin, mengatakan pasar saat ini dalam kondisi tarik-ulur antara risiko geopolitik dan harapan meredanya konflik. Meski penurunan harga memberi ruang bernapas bagi pelaku pasar, perdagangan minyak akan tetap sangat fluktuatif.

Salah satu faktor penting adalah Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia. Gangguan di sana dapat memicu guncangan besar pada pasar energi global.

Negara-negara G7 menyatakan siap mengambil langkah untuk menjaga pasokan energi global. Mereka membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis untuk meredam lonjakan harga.

MEMBACA  Gembar-Gembor Trump Tak Berbekas bagi Para Investor

Sampai saat ini, belum ada keputusan final terkait pelepasan cadangan tersebut. Namun, Pemerintah Inggris akan mendesak agar ketegangan di Timur Tengah segera mereda demi keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Tinggalkan komentar