Uber kini menghadirkan fitur keamanan khusus perempuan, yang dikenal sebagai Women Preferences, kepada pengguna di seluruh negeri.
Fitur yang pertama kali diluncurkan di pasar percontohan di Los Angeles, San Francisco, dan Detroit pada Juli lalu ini memungkinkan pengguna dan pengemudi memilih preferensi gender untuk mencocokkan perjalanan serta menjadwalkan tumpangan dengan pengemudi perempuan. Pengaturan ini juga tersedia untuk Akun Remaja Uber.
“Women Preferences dibuat karena adanya permintaan dari para perempuan,” tulis perusahaan dalam sebuah blog post tertanggal 9 Maret.
Menurut perusahaan, fitur ini telah digunakan untuk 230 juta perjalanan sejak peluncurannya. Kini tersedia bagi pengemudi di 40 negara dan untuk penumpang di tujuh negara (AS, Jerman, Prancis, Arab Saudi, Portugal, Brasil, dan Spanyol).
Pesaing Uber, Lyft, telah meluncurkan fitur serupa yang menghubungkan penumpang perempuan dan non-binary dengan pengemudi bukan laki-laki hampir dua tahun sebelumnya. Lyft memperluas alat Women+ Connect ke seluruh negeri pada tahun 2024. Kedua perusahaan telah menghadapi keluhan bahwa aplikasi ride-sharing tidak cukup berbuat banyak untuk menangani serangan terhadap penumpang.
Bulan lalu, Uber dinyatakan partially liable atas kekerasan seksual yang dilakukan oleh salah satu pengemudinya dan diperintahkan membayar ganti rugi lebih dari $8 juta. Penumpang Jaylynn Dean menggugat perusahaan setelah diperkosa oleh seorang pengemudi pada 2023 dan menemukan bahwa perusahaan tidak memberitahunya bahwa perjalanannya telah ditandai sebagai insiden keamanan serius yang berpotensi. Uber menghadapi ribuan gugatan atas serangan dan pelanggaran seksual yang masih tertunda, menurut The New York Times.
Sementara itu, pengemudi laki-laki mendalilkan bahwa fitur keamanan semacam ini merupakan bentuk diskriminasi gender di tempat kerja. Sekelompok pekerja ride-share baru-baru ini mengajukan beberapa gugatan dengan klaim kehilangan pendapatan, dengan argumen bahwa terdapat alasan untuk class action lawsuit.