Studi Mengungkap Potensi Propolis bagi Pasien Gangguan Metabolik

Minggu, 8 Maret 2026 – 10:35 WIB

Jakarta, VIVA – Penggunaan bahan alam untuk kesehatan terus jadi perhatian peneliti. Salah satu yang kini kembali ramai dibahas adalah propolis, senyawa alami dari lebah yang dikenal punya banyak kandungan bioaktif.

Seiring berkembangnya pendekatan berbasis bukti ilmiah atau evidence-based medicine, banyak penelitian dilakukan untuk mengkaji manfaat propolis lebih dalam, termasuk lewat uji klinis di rumah sakit. Yuk scroll lebih lanjut!

Baru-baru ini hasil penelitian klinis ke-25 HDI Propoelix tentang ekstrak propolis dipublikasikan. Penelitian ini dilakukan di salah satu rumah sakit vertikal di bawah Kemenkes RI.

Studi ini tidak hanya soroti potensi manfaat propolis, tapi juga gambarkan perjalanan panjang riset bahan alam—dari eksperimen di lab sampai pengujian langsung pada pasien di klinik.

Dari sisi sains dasar, propolis dikenal punya komposisi senyawa aktif yang komplek. Kandungan ini dipercaya punya potensi untuk dukung berbagai fungsi biologis tubuh, termasuk sistem imun.

Tapi, dalam praktik medis modern, pembuktian ilmiah yang kuat dan proses standarisasi jadi faktor penting sebelum bahan alami bisa digunakan lebih luas.

“Propolis adalah bahan alam dengan kompleksitas senyawa bioaktif yang sangat tinggi. Tantangannya adalah bagaimana memastikan standarisasi dan pembuktian ilmiahnya agar bisa diterima dalam praktik medis modern. Upaya seperti dari HDI ini penting untuk menjembatani sains dasar dengan aplikasi klinis,” ujar Dr. Muhamad Sahlan., S. Si., M.Eng., selaku Akademisi dan peneliti dari Universitas Indonesia, dalam Seminar Kesehatan Nasional ‘Beyond the Fundamentals of Propolis Science: Clinical Evidence Behind HDI Propoelix’, di Jakarta, Sabtu 7 Maret 2026.

Penelitian ini dilakukan di RS Soerojo Magelang dan melibatkan pasien dewasa dengan kondisi metabolik seperti diabetes, obesitas, dan hipertensi. Kondisi-kondisi ini sering berkaitan dan bisa berkembang jadi sindrom metabolik, yaitu kumpulan faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan penyakit kardiovaskular.

MEMBACA  Peta 3D Pertama dari Atmosfer Exoplanet Mengungkap Cuaca Aneh

Halaman Selanjutnya

Sindrom metabolik sendiri ditandai dengan gangguan regulasi gula darah, tekanan darah tinggi, kelebihan berat badan, serta ketidakseimbangan profil lipid dalam tubuh. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tapi juga jadi tantangan kesehatan masyarakat karena terkait dengan meningkatnya kasus penyakit tidak menular.

Tinggalkan komentar